Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label blog

Tentang Sepi

Ada orang mengatakan, tanpa keramaian hidup tidak berwarna. Padahal mereka hanya tidak tahu bahwa bagi sebagian yang lain, keheningan itu ramai, diam itu berbicara. Ramai justru kuburan, bicara bahkan kadang-kadang tidak asik! Melangkah dalam hujan sendirian seperti katanya Rowan Atkinson itu menarik,  tentang bagaimana sepi menjadi syahdu dalam rintik air hujan, menyatu dan menghapus air mata. Melangkahkan kaki dengan muka tertunduk tanpa ada yang bisa menerka apa isi hati. Atau berjalan sendirian di bawah lampu malam, lalu duduk di sudut kota sambil menggerakkan jemari, memainkan hp dan membalas pesan-pesan yang seharian terabaikan. Sepi itu ramai, ribut, dengan kata-kata yang tidak terucap. Sepi itu unik, merangkai imajinasi hingga ke tingkat yang tertinggi. Tapi benar, sepi itu berbahaya. Ada setan lalu lalang dan terus membisikkan pada kejahatan. Dia perlu untuk ditendang jauh, agar jangan sampai membajak diri, dan juga hati. Selamat menikmati sepi, penikmat hening!...

Saya ngeblog untuk siapa?

Untuk diri sendiri. Ini lucu. Kadang-kadang ide muncul begitu saja. Bergumam dalam batin rasanya seperti membiarkan bus-bus lewat tanpa dihentikan untuk ditumpangi, padahal sedang ingin menempuh perjalanan. Bus-bus itu lewat begitu saja. Bukannya kalau dihentikan lalu naik bus, busnya jadi lebih bermanfaat? Seperti itulah kira-kira. Kadang-kadang lintasan ide yang muncul ini saya tangkap lalu tuliskan dalam google keep di handphone, aplikasi khusus dari google yang selalu membantu saya mengabadikan catatan-catatan kecil pribadi, bagaikan buku notes saku. Tapi jika ada waktu luang, seperti saat ini, jam 04:35, saya tuliskan saja apa saja yang terlintas dalam fikiran. Seperti tulisan ini. Apakah tulisan seperti ini layak untuk dibagikan? Kalau untuk ukuran surat kabar, tentu tidak. Tapi untuk mengisi waktu pada pagi buta seperti ini, saat kantuk tidak kunjung datang, maka menulis hal nggak berguna seperti ini memberikan saya sedikit kesibukan. Tapi serius. Saya menulis di b...

Cerita Seram

Pukul 01:06 dini hari. Tadinya mau nulis soal ribut-ribut demo Ahok 4 November besok, udah jalan satu paragraf, tapi suara tangis anak-anak di kamar sebelah bikin nggak konsen . Mungkin ada kejadian apa, pemukulan, histeria, jatuh, atau apalah, tapi makin lama suara tangisnya kok makin kencang saja. Saya keluar kamar dan tinggalkan notebook yang masih dengan Microsoft Word terbuka. Selidik kiri kanan, rasanya asal suaranya dari lantai dua dekat kamar mandi. Setelah lihat ada anak kelas 6 di luar kamar, saya jadi mikir ada kejadian serius ini. Bukan lagi suara misteri seperti dulu. Suara nangis juga, jam 2 malam, malam Jumat saat itu. Saya cari kemana-mana suara nangisnya pindah-pindah terus. Dari kamar mandi asrama yang satu ke kamar mandi yang lainnya. sampai terakhir pindah ke atas loteng. Ya sudah, akhirnya saya biarkan saja. Mungkin yang nangisnya lagi perlu sendiri di situ. Tiba di depan kamar, saya tanya sama yang di luar, "Ada apa?" "Kayak kerasukan gitu u...

Bukan Anak Malam

Sesekali mereka melihat dengan pandangan heran. Mungkin menyangka saya adalah mata-mata, atau intelijen yang lagi bosan tugas, duduk sendirian di bawah langit malam sambil menyeruput minuman itu-itu saja setiap malam. Tanpa perlu saya beritahu, penjual jus di simpang Jambotape itu memang selalu langsung membuatkan jus mangga dengan gula sesendok saja saban kali saya datang. Bukannya saya anak malam. Siang pun saya kadang keluar dari sarang, namun di lain tempat dan tujuan. Bila siang atau sore, biasanya yang saya cari itu kopi, biar melek mata ini dan semangat untuk bikin ini itu. Padatnya aktifitas pun bisa diimbangi. Tapi masalah keluar malam, di atas jam 12, itu bukan tanpa kesengajaan, melainkan kesengajaan namun tanpa paksaan. Biasanya, tugas-tugas saya memang tuntas saat yang lain telah terlelap, atau bahkan sudah mimpi satu dua episode. Eh kok bisa begitu? Disuruh kerja paksa kah? Tidak! Tentu saja. Tugas saya disini sederhana, mengelola pendidikan dan fasilitas kompute...

Hati-hari Berkendara di Malam Hari, Bro!

Tidak bermaksud untuk mengajak bersu'udzan, tetapi untuk mengingatkan abang-abang dan adik-adik agar lebih waspada saat berkendara sendirian di malam hari. Syaithan memang dirantai selama bulan Ramadhan. Tetapi bukan berarti orang jahat ikut tadarusan dan libur dari aktifitas kejatahannya.  Barusan di Jambotape saya distop seorang laki-laki, umur sekitar 30-35 tahun, kulit gelap, muka agak sangar, untuk minta diantarkan pulang ke Simpang Mesra. "Et Simpang Mesra mantong." Katanya. Fikiran saya langsung terbayang pada kejadian serupa beberapa tahun silam yang dimuat di surat kabar. Si penolong terpaksa merelakan sepeda motornya dirampas karena todongan senjata tajam di perutnya oleh orang yang 'dibantunya' itu, tak kuasa untuk dilawannya. Kejadiannya di jalan yang ramai (tp saya tidak ingat dimana pastinya). Barangkali orang itu memang butuh tumpangan. Tetapi waspada juga perlu. Bila beramai-ramai, tidak masalah. Jika ada hal buruk, ada yang membantu, t...

Bagaimana batasan miskin dan kaya?

Seseorang yang miliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya dan bersyukur atas apa yang dimiliki adalah orang kaya sesungguhnya. Tidak peduli apakah dia seorang pemulung, loper koran, tukang kebun, pengusaha, bahkan milliyarder sekalipun. Mereka yang punya harta triliunan masih dapat dianggap miskin jika tidak bersyukur atas apa yang miliki. Sikap tidak bersyukur memunculkan keserakahan & ketidakpuasan yang tiada berujung, yang membuat tumpukan harta tidaklah bermanfaat & selalu merasa TIDAK CUKUP. Bukankah orang yang merasa tidak cukup harta adalah orang miskin?

Tanpa Kata

Tiga hari yang lalu saya mendownload video musik anak-anak tuna rungu dari Youtube . Video ini dibuat oleh D-PAN (Deaf Profesional Art Network), sebuah organisasi yang mengkhususkan diri untuk mengembangkan profesional tuna rungu untuk masuk ke industri hiburan. Kunjungi d-pan.org untuk informasi lebih lanjut. Takjub. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah menonton video tersebut. Mereka bahkan tidak tampak seperti tuna rungu. Mereka bernyanyi dengan bahasa isyarat, namun tidak kaku. Mereka tampak lebih baik daripada penyanyi yang biasa lyp-sing di layar kaca. Segudang pertanyaan pun timbul di benak saya. Mulai dari bagaimana mereka berlatih tanpa suara, berkomunikasi, belajar, dsb. Selama ini saya memang jarang berinteraksi dengan orang-orang seperti itu. Jika pun berjumpa di jalan, paling-paling cuma bisa senyum dan berlagak mengerti ucapan "aaa.. aaa" yang biasanya keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba saya membayangkan, apa yang akan terjadi jika ada anak tuna rungu d...