Langsung ke konten utama

Bukan Anak Malam


Sesekali mereka melihat dengan pandangan heran. Mungkin menyangka saya adalah mata-mata, atau intelijen yang lagi bosan tugas, duduk sendirian di bawah langit malam sambil menyeruput minuman itu-itu saja setiap malam. Tanpa perlu saya beritahu, penjual jus di simpang Jambotape itu memang selalu langsung membuatkan jus mangga dengan gula sesendok saja saban kali saya datang.

Bukannya saya anak malam. Siang pun saya kadang keluar dari sarang, namun di lain tempat dan tujuan. Bila siang atau sore, biasanya yang saya cari itu kopi, biar melek mata ini dan semangat untuk bikin ini itu. Padatnya aktifitas pun bisa diimbangi.

Tapi masalah keluar malam, di atas jam 12, itu bukan tanpa kesengajaan, melainkan kesengajaan namun tanpa paksaan. Biasanya, tugas-tugas saya memang tuntas saat yang lain telah terlelap, atau bahkan sudah mimpi satu dua episode. Eh kok bisa begitu? Disuruh kerja paksa kah?

Tidak! Tentu saja. Tugas saya disini sederhana, mengelola pendidikan dan fasilitas komputer. Tapi, masa Cuma itu saja? Aneh. Dasarnya dari situ maka jadilah tugas-tugas lainnya saya kreasikan, oleh saya sendiri, tanpa paksaan. Tapi cukup bicara tentang itu.

Keluar dini hari, duduk seorang diri di sudut kota sambil periksa mention, notif, balas pesan, kadang bikin artikel rahasia, menikmati sunyi, atau bahkan scrol scrol instagram sambil meneguk segelas jus mangga dan kadang juga martabak 2 telor sambil santai memang mengasyikkan. Pada saat-saat seperti ini, saya haramkan diri untuk menyentuh apa pun yang berhubungan dengan tugas. Tanpa peduli pada pandangan orang, yang seakan seperti intelijen kurang kerjaan, anak terbuang, atau malah dikunci pintu rumah karena terlambat pulang. HAHA.

Ada satu dua orang mikirnya sendirian itu menyedihkan. Mereka tak paham, bahwa tidak semua orang itu hidupnya ingin ala seleb, diliput infotainmen dan selalu jadi bahan pembicaraan. Ada juga orang yang sunyi itu dijadikan teman, nikmat itu justru dirasa saat bersendirian. Dalam psikologi disebut dengan orang-orang introvert. Saya tidak begitu paham, tapi dari apa yang saya baca, introvert itu merujuk pada orang-orang yang berkebalikan dari ekstrovert, yang suka keramaian dan lebih bersifat terbuka.

Memang dalam kesunyian, ada tenang yang saya dapatkan. Bisa duduk sendiri dan menikmati berbagai hal sendirian –tidak semuanya kesenangan, kadang juga masalah-, adalah kenyamanan yang dirindukan oleh orang-orang setipe dengan saya. Selain itu, bersendirian juga memudahkan diri dalam bertafakur, mengingat-ingat kesalahan, merenung, dan mengambil i'tibar dari hal itu semua.

Ini hanya soal ‘me time’, kata orang, waktu-waktu yang saya gunakan untuk santai, setelah seharian dihantam badai kesibukan. Sampai-sampai dulu pernah ada santri yang bilang, “Jadi ustadz sebenarnya istirahatnya kapan?” Sssst. Semoga dia tidak baca tulisan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...