Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label selfnote

#selfnote: 25122016

Ke arah manapun kita melihat, dalam situasi apa pun, baik senang maupun sedih, jangan lupakan bahwa tidak ada apa pun yang dapat terjadi melainkan atas kuasa Allah. Maka terimalah segala yang Allah berikan dengan hati yang lapang, penuh syukur dan ikhlas, bersembunyi dan menghindar dari segala pujian yang tidak patut, sambil terus memperbaiki diri dan mengisinya dengan hal yang baik, untuk mendapatkan ridha-Nya terus, dan terus hingga akhir hayat. Bila hati tertaut dan terus berharap pada Allah semata, maka pentingkan penilaian Allah, tinggalkan harap dan nilai dari manusia. BandaAceh, 25 Desember 2016 04:22 WIB

271215

Gelap, hening, sepi Hitam, malam, kelam Tak ada suara, tak ingin berucap, hanya ingin sendiri Kulayangkan wajahku ke kanan, hitam, kelam Kupalingkan ke kiri, sama hitam Hujan, dingin, tak berangin Sempurnalah sudah

211015

Sebaiknya hindari mengeluh betapa lelahnya beraktifitas dalam kebaikan, barangkali itu adalah cara Allah menghindarkanmu dari bertambahnya maksiat dan dosa. Namun bila lelahmu justru dalam bermaksiat, saatnya kembali kepada Allah, sungguh Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. @bangrahmat

071015

Jika elok rupamu, indah pakaianmu, tinggi kedudukanmu, namun tidak ada yang menghiasi jiwamu selain akhlak tercela, maka tetaplah kamu bagaikan muslim sampah yang tidak mampu mencerna sabda Rasulullah, "innama bu'itstu liutammima makarimal akhlak." @bangrahmat

Can I trust you, Sir?

Usai kelas berakhir, dua santriwan mencegat saya di pintu saat hendak keluar. Salah satunya dari kelas sebelah. Dia meminta izin untuk menanyakan lanjutan pertanyaan dari pembahasan minggu lalu yang mengganggu pikirannya. "Mengapa Allah menurunkan agama samawi tidak langsung sekaligus sempurna selayaknya ajaran Islam? Mengapa baru pada masa Rasulullah Muhammad saw Allah menurunkan risalah yang paripurna?" Sedangkan seorang lagi meminta sedikit privasi karena yang ingin ditanyakan adalah permasalahan suami isteri tentang anak sepersusuan. Katanya dia malu jika teman-temannya mendengar dan menyangka pertanyaan itu darinya. Dia memberitahu saya jika itu adalah pertanyaan titipan dari saudara temannya. Kami kemudian berdiskusi ringan di luar kelas hingga rasa ingin tahunya terselesaikan dengan baik. Di akhir diskusi dia mengatakan, "Masya Allah, saya baru kelas 2 SMA tapi sudah tahu banyak soal suami istri." Saya terkekeh dan meyakinkannya bahwa memang dia berhak tahu...