Tiga hari yang lalu saya mendownload video musik anak-anak tuna rungu dari Youtube. Video ini dibuat oleh D-PAN (Deaf Profesional Art Network), sebuah organisasi yang mengkhususkan diri untuk mengembangkan profesional tuna rungu untuk masuk ke industri hiburan. Kunjungi d-pan.org untuk informasi lebih lanjut.
Takjub. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah menonton video tersebut. Mereka bahkan tidak tampak seperti tuna rungu. Mereka bernyanyi dengan bahasa isyarat, namun tidak kaku. Mereka tampak lebih baik daripada penyanyi yang biasa lyp-sing di layar kaca.
Segudang pertanyaan pun timbul di benak saya. Mulai dari bagaimana mereka berlatih tanpa suara, berkomunikasi, belajar, dsb. Selama ini saya memang jarang berinteraksi dengan orang-orang seperti itu. Jika pun berjumpa di jalan, paling-paling cuma bisa senyum dan berlagak mengerti ucapan "aaa.. aaa" yang biasanya keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba saya membayangkan, apa yang akan terjadi jika ada anak tuna rungu datang ke rumah dan mengajak bicara dalam bahasanya?
Lalu semalam, di TransTV ada film bagus yang juga menampilkan sosok tuna rungu. Judulnya The Quite, sebuah film drama dan thriller yang dirilis pada 2005 dan dibintangi oleh Camilla Belle and Elisha Cuthbert. Jalan ceritanya sangat sulit ditebak, misterius, tapi tetap enak untuk ditonton (menurut saya justru itu daya tarik kuat dari film ini).
Sedikit menceritakan ulang. Review yang lebih banyak dapat dilihat sini.
Saya semakin penasaran dengan tuna rungu. Bagaimana caranya saya berkomunikasi dengan mereka sedangkan saya tidak mampu berbahasa isyarat?
Tadi sore, jam tiga, saya kedatangan dua orang tamu cilik, umur sekitar 10 tahun. Salah satu diantaranya tuna rungu, yang juga piatu. Saya lupa menanyakan nama mereka. Saya salami keduanya, mempersiapkan air minum, kue-kue kecil, lalu duduk bersama mereka. Saya kebingungan bagaimana harus berkomunikasi dengan si anak ini. Ternyata di luar dugaan, temannya yang satu lagi menjadi penerjemah yang baik bagi adik yang tuna rungu ini. Saya berbicara seperti biasa, menanyakan kabarnya, sudah silaturahmi kemana saja, dsb, sedangkan kawannya menerjemahkan dalam bahasa isyarat.
Di dinding ruang tamu kami ada foto alm. Abu. Saya perhatikan adik yang tuna rungu ini melihat ke foto, lalu melihat ke arah saya dan menunjuk foto abu, menyilangkan tangannya, matanya dipejamkan, kepalanya dimiringkan ke kiri seakan-akan mirip orang tidur, dan menunjuk ke arah mesjid (lokasi makam abu). Saya menerka mungkin si adik ini menanyakan 'Apa itu orang yang dimakamkan di kompleks mesjid?'. Saya hanya mengangguk dan tersenyum.
Saya terkesan, kagum, dengan bahasa tanpa kata.
Takjub. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah menonton video tersebut. Mereka bahkan tidak tampak seperti tuna rungu. Mereka bernyanyi dengan bahasa isyarat, namun tidak kaku. Mereka tampak lebih baik daripada penyanyi yang biasa lyp-sing di layar kaca.
Segudang pertanyaan pun timbul di benak saya. Mulai dari bagaimana mereka berlatih tanpa suara, berkomunikasi, belajar, dsb. Selama ini saya memang jarang berinteraksi dengan orang-orang seperti itu. Jika pun berjumpa di jalan, paling-paling cuma bisa senyum dan berlagak mengerti ucapan "aaa.. aaa" yang biasanya keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba saya membayangkan, apa yang akan terjadi jika ada anak tuna rungu datang ke rumah dan mengajak bicara dalam bahasanya?
Sedikit menceritakan ulang. Review yang lebih banyak dapat dilihat sini.
Camilla Belle berperan sebagai Dot, anak yatim piatu yang diadopsi oleh orang tuanya Nina (Elishha Cuthbert). Dot mulanya tidak diterima dengan baik oleh Nina. Dot yang tuna rungu sering mendapatkan intimidasi verbal dari Nina dan teman-temannya yang lain. Namun dia tetap tenang dan terkesan membiarkan hal itu terjadi padanya. Pada suatu kesempatan, Nina dan Dot bertemu di kamar mandi sekolah. Nina berpura-pura berbaik hati dan membubuhkan lipstik pada bibir Dot. Setelah selesai, Nina pergi begitu saja dan meninggalkan Dot seorang diri di kamar mandi. Alangkah kagetnya Dot, ketika berkaca ia menemukan bibirkan berantakan karena coretan lipstik yang ngawur. Tapi dia hanya diam saja.
Pada kesempatan yang lain, Dot dinner (makan malam) bersama teman sekolahnya, Connor, di sebuah restoran. Saat pelayan menanyakan pesanan menu pada Dot, Connor menjelaskan jika Dot tuna rungu. Connor meminta pelayan untuk berbicara pelan-pelan agar Dot membaca gerak bibir pelayan tersebut. Mula mula pelayan mengucapkan Vanillaa, Dot menggeleng. Lalu Strawberry, Dot menggeleng lagi. Saat pelayan mengucapkan Chocolate, Dot mengangguk dan tersenyum. Pelayan lalu pergi menyiapkan minuman chocolate pesanan Dot.
Pada kesempatan itu juga, Connor yang semula tampak baik menjadi sosok yang mengerikan. Dia melayangkan kalimat-kalimat abusif kepada Dot. Salah satunya, dia membayangkan bagaimana menariknya jika dia bisa meniduri Dot tanpa suara, seperti boneka. Dot hanya diam tanpa ekspresi, menunjukkan dirinya tidak dapat mendengar.
Situasi yang lebih rumit terjadi di rumah. Nina dan ayahnya terlibat hubungan terlarang. Nina depresi berat. Dia berkali kali mengutarakan niat untuk membunuh ayahnya kepada Dot. Dot yang tuli dan bisu hanya diam saja. Nina juga menceritakan jika dia ingin pergi ke Australia, dengan bekal uang 1000 dollar dari ayahnya. Di sana ia akan menjadi penari striptis dan mendapatkan bayaran dari hal itu. Itu menurutnya akan lebih baik daripada terus menerus menjadi budak nafsu ayahnya sendiri.
Cara Nina mendapatkan 1.000 dollarnya dapat dikatakan unik. Dia berbohong kepada ayahnya dengan mengatakan dirinya hamil dan meminta uang cash untuk aborsi di klinik anonym. Namun malang, ayahnya tahu jika ternyata nina berbohong. Ayahnya menemukan tampon Nina yang menunjukkan kehamilan yang negatif. Ayahnya berang dan akan memperkosanya. Pada saat itu Dot yang sedang bermain piano menghentikan permainannya dan mengambil satu senar piano yang kemudian digunakan untuk mencekik ayah Nina sampai mati.
Setelah kejadian itu, Dot perlahan lahan mulai membuka diri jika dirinya tidaklah tuli. Dia hanya berpura-pura tuli agar bisa lebih dekat dengan ayahnya yang tuna rungu semasa hidupnya. Lalu bagaimana tentang serangan verbal Nina kepadanya, Connor, dan teman-temannya yang lain? Sangat sulit membayangkannya.
Saya semakin penasaran dengan tuna rungu. Bagaimana caranya saya berkomunikasi dengan mereka sedangkan saya tidak mampu berbahasa isyarat?
Tadi sore, jam tiga, saya kedatangan dua orang tamu cilik, umur sekitar 10 tahun. Salah satu diantaranya tuna rungu, yang juga piatu. Saya lupa menanyakan nama mereka. Saya salami keduanya, mempersiapkan air minum, kue-kue kecil, lalu duduk bersama mereka. Saya kebingungan bagaimana harus berkomunikasi dengan si anak ini. Ternyata di luar dugaan, temannya yang satu lagi menjadi penerjemah yang baik bagi adik yang tuna rungu ini. Saya berbicara seperti biasa, menanyakan kabarnya, sudah silaturahmi kemana saja, dsb, sedangkan kawannya menerjemahkan dalam bahasa isyarat.
Di dinding ruang tamu kami ada foto alm. Abu. Saya perhatikan adik yang tuna rungu ini melihat ke foto, lalu melihat ke arah saya dan menunjuk foto abu, menyilangkan tangannya, matanya dipejamkan, kepalanya dimiringkan ke kiri seakan-akan mirip orang tidur, dan menunjuk ke arah mesjid (lokasi makam abu). Saya menerka mungkin si adik ini menanyakan 'Apa itu orang yang dimakamkan di kompleks mesjid?'. Saya hanya mengangguk dan tersenyum.
Saya terkesan, kagum, dengan bahasa tanpa kata.



Komentar
Posting Komentar