Langsung ke konten utama

Krisis Air

Dua hari ini situasi di dayah amat kacau. Bak penampungan air terbesar kosong. Seluruh wilayah di dayah menjadi kering tanpa air. Bak mandi, tempat wudhu, toilet, semuanya kering. Penyebabnya satu: patahnya pipa air dalam proyek pembangunan fly over di Simpang Surabaya.

Kegaduhan di asrama tidak bisa dielakkan. Anak-anak bingung harus mandi dimana. Padahal siang Kamis itu, ada yang di antara mereka baru saja selesai berolahraga. Setiap menjelang shalat berjamaah, selalu terlihat antrian panjang di belakang 2 keran air kecil yang masih berfungsi. Belakangan ada hal lain yang lebih parah, yaitu ketika santri bertanya, "Afwan ustadz, kami bisa BAB dimana?" Haha.

Untuk menanggulangi permasalahan ini, dayah kemudian mendatangkan banyak sekali truk tanki air. Tercatat 11 buah truk di hari pertama (Kamis, 16/4/2016) dan 12 truk di hari kedua (17/4). Tapi air sejumlah itu masih sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan santri. Alhasil tetap saja bak-bak air di asrama tidak menjadi penuh. Pemakaian air harus dihemat-hemat.

Sebenarnya ini bukan hal baru. Kejadian seperti ini sering terjadi. Bahkan saya sudah cukup terlatih untuk menghadapi hal ini. Bukan sombong. Haha. Saat mengikuti leadership basic training (latihan kepemimpinan dasar) saat masih duduk di bangku aliyah dulu, airnya selalu sedikit di bak. Entah karena memang airnya sedikit atau mungkin sengaja dibuat sedikit, pokoknya setiap kali mandi harus hemat-hemat: hanya boleh dua gayung, tiga gayung perorang. Itupun setelah antri lama karena orangnya rame. Saat itu situasinya mirip tentara lagi perang. Tapi harus nerima.

Semoga santri bisa menghadapi krisis ini. 😂

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...