Langsung ke konten utama

Teknologi Bukanlah Ancaman

Teknologi bukanlah ancaman. Meskipun ada yang menyebut teknologi adalah ancaman, bagi saya itu hanyalah ungkapan ketakukan terhadap penyalahgunaan. Sama seperti  takutnya seorang ibu bila putri kecilnya yang baru 3 tahun memegang pisau dapur. Ibunya tentu tidak ingin bila putrinya itu tergores dan berdarah, sebab kita tahu, balita tidak fasih dalam menggunakan pisau.

Pun demikian dengan teknologi. Di awal kemunculan parabola, di kampung-kampung dalam lagu-lagu likee Aceh sering kita dengarkan lagu ‘abuwa keunong peungeut, makwa keunong peungeut, gara-gara parabola’ (Abuwa kena tipu, Makwa juga kena tipu, gara-gara parabola). Orang-orang yang baru mengenal televisi pada waktu itu masih ada yang belum mengerti, bahwa film yang mereka tonton adalah rekayasa aktor dan aktris di balik lensa kamera. Seakan-akan mereka yakin betul bahwa film itu benar-benar kejadian nyata hingga ada yang menangis hebat saat menonton film sedih atau berteriak keras saat aktor utamanya kena pukul, apalagi jika sampai mati, wah bisa heboh. Mereka menonton sambil baper (bawa perasaan), tertipu dan orang-orang yang tahu pun membuat lelucon dalam syair likee abuwa keunong peungeut. Banyak da’i yang sampai-sampai dalam dakwahnya perlu memberikan penekanan dalam materi dakwahnya, bahwa parabola itu mengkhawatirkan, berbahaya, merusak mental, dan harus dijauhi.

Saat internet mulai populer, kekhawatiran terhadap parabola berkurang dan kekhawatiran terhadap akses informasi yang tidak terbatas menjadi lebih sering dibincangkan orang. Orang-orang mulai khawatir jika konten pornografi akan lebih mudah menyebar, informasi palsu dan hasutan kebencian akan mudah mengadu domba orang-orang, hak-hak privasi, hak cipta dapat mudah dilanggar.

Ketakutan-ketakutan yang muncul, menyebabkan masyarakat jadi gaduh, pada awalnya. Meski penyalahgunaan tidak dapat dikesampingkan, namun manfaat besar dari teknologi informasi juga tidak boleh sampai dikecualikan. Layaknya pisau dapur yang dapat menusuk dan melukai orang, tetapi ia juga merupakan idaman dari ibu-ibu yang setiap hari memotong sayur dan membersihkan ikan. Maka demikian pula seharusnya teknologi. Dia bukanlah ancaman.

Teknologi berasal dari Bahasa Yunani, technologia atau techne, yang artinya wacana seni. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai 1. metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan; 2. keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia; Dan dalam kamus Oxford disebutkan bahwa teknologi adalah The application of scientific knowledge for practical purposes, especially in industry, penerapan pengetahuan ilmiah untuk tujuan praktris, terutama dalam industri. Meskipun kini teknologi mengalami perluasan makna pada hal-hal ilmiah, namun teknologi juga tidak terlepas dari pengertian proses dan aktifitas yang dilakukan orang-orang untuk memudahkan urusannya. Dalam bahasa mudahnya, teknologi disimpulkan sebagai alat untuk memudahkan pekerjaan.

Ayo kita lihat contohnya. Kita berjalan dengan kaki. Ada telapak kaki yang menyentuh tanah, sedangkan tanah yang kita injak ada kalanya di bawahnya ada batu, duri, atau pun kotoran binatang. Nah, bila terpijak, kaki bisa kesakitan, terluka, berdarah, menjadi kotor. Nenek kakek buyut kita di masa lalu akhirnya membuat sandal untuk dikenakan agar terhidar dari hal-hal seperti itu. Sandal akhirnya membuat kaki kita nyaman saat berjalan, maka dengan demikian sandal adalah bagian dari teknologi.

Sudah capek berjalan dengan kaki, untuk berjalan dalam jarak yang jauh, kita juga butuh waktu yang lama. Untuk menyiasati hal ini, kemudian nenek kakek buyut kita belajar untuk menaklukkan binatang untuk menjadi tunggangan. Kamu harus tahu, jika dulu, keledai dan kuda itu pernah menjadi alat transportasi favorit sebelum masuk ke zaman industri dan digantikan dengan sepeda motor, mobil, kereta api, bahkan pesawat terbang hingga roket yang bisa menerbangkan orang ke bulan saat ini.

Namun iya, benar, teknologi itu ada sisi bahayanya. Sepatu, alas pijak kita itu bisa menjadi senjata yang menyakitkan bila digunakan untuk menendang. Kuda bisa berbahaya jika salah cara menarik tali pengendalinya, bisa-bisa dia melompat padahal inginnya kita agar dia berjalan, atau bahkan menanduk dan menginjak tuannya. Mobil itu bisa menabrak orang sampai badannya hancur, dan roket juga bisa disematkan bom besar bahkan nuklir untuk meluluhlantakkan sebuah kota besar dalam waktu sekejap.

Begitu juga dengan teknologi yang lain. Semuanya ada plus minusnya. Tetapi bagaimana pun, teknologi selalu dirancang untuk memudahkan penggunanya.

Teknologi Informasi
Dalam pidato dan ceramah agama, termasuk dalam berbagai penampilan syarhil quran di panggung-panggung MTQ, seringkali teknologi informasi menjadi kambing hitam dari pergeseran akhlak remaja. Yang dulu katanya taat, menjadi hancur karena teknologi. Yang dulu alim, menjadi dzalim setelah kenal teknolgi.

Tapi mari bayangkan bagaimana teknologi informasi memberi pengaruh bagi Firaun yang dikutuk dan ditenggelamkan Allah pada zaman Nabi Musa as? Pada masa itu belum ada iPhone. Serius. Saat itu Firaun tidak pernah mengenal Facebook. Tidak update status dan juga tidak memberikan like atau menekan tombol share. Tapi lihat bagaimana rusaknya akhlak Firaun sampai-sampai berani menganggap dirinya Tuhan.

Atau lihat bagaimana Qabil saat membunuh Habil. Apakah dimasa itu sudah ada teknologi 4G?

Di zaman ini, hanya saja, teknologi yang salah guna menjadi tambahan alasan mengapa akhlak orang menjadi semakin buruk. Akan tetapi, bagi yang benar-benar menggunakan teknologi secara tepat guna, maka mereka pun akan menjadi pemenang di dunia dan di akhirat di zaman informasi ini.

Mari kita lihat contohnya. Edi Fadhil adalah seorang yang tidak begitu dikenal pada awalnya. Dia hanyalah warga biasa yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah yang tinggal di balik penjara Kajhu, Aceh Besar. Namun dengan hanya dengan mengupdate status facebook, Edi Fadhil bisa mengumpulkan banyak dermawan untuk membantu banyak orang miskin yang tidak tersentuh bantuan pemerintah, untuk dibangunkan rumah permanen. Sampai saat ini sudah 24 rumah dhuafa yang dibangunnya. Yang terakhir adalah rumah kecil yang hanya berdindingkan terpal hitam, di dalamnya tinggal sepasang suami istri dengan 2 orang anak balita dan 1 bayi. Bisa kamu bayangkan bagaimana panasnya tinggal dalam rumah seperti itu di siang hari dan bagaimana dinginnya bila malam hari?

Kita semuanya tahu, membuat rumah itu mahal. Itu alasannya kenapa pemerintah selalu kesulitan dalam urusan rehab rumah dhuafa. Tetapi Edi Fadhil bisa menggunakan teknologi informasi untuk tujuan mulianya. 12 Oktober lalu, Edi Fadhil diundang oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika ke Makassar untuk menerima Anugerah Komunikasi Indonesia dari Pemerintah karena hal positif yang dilakukannya. Jika ingin melihat apa yang dilakukan oleh Edi Fadhil, cari saja di kolom pencarian Facebook, nama Edi Fadhil. Jika kamu menemukan foto seseorang yang sedang selfie dengan seekor kambing hitam, yang warna kulitnya kuning langsat itu namanya Edi Fadhil. Bukan yang hitam ya! 😁

Lihat contoh yang lain, bagaimana Buya Yahya, seorang ulama dan da’i dari Blitar mengembangkan dakwahnya melalui mimbar ke mimbar, namun juga memanfaatkan sentuhan teknologi untuk mengembangkan syiar. Sehingga dakwahnya tidak hanya dapat disaksikan oleh orang di depan mimbar, melainkan juga orang di seluruh dunia melalui jaringan internet. Demikian pula dengan apa yang dilakukan Almarhum Zainuddin MZ yang suaranya kerap kita dengar melalui kaset maupun radio.

Lihat juga bagaimana dalam keseharian, kita menggunakan telefon untuk kemudahan komunikasi dengan kerabat atau famili yang jauh tempat tinggalnya. Hanya dengan menggunakan alat yang kecil di tangan, kita bisa menghubungi siapa saja kapanpun. Bila tidak menggunakan teknologi sama sekali, maka kita harus berjalan kaki ayam katakanlah ke Amerika, berenang melintasi beberapa samudera (kapal dan surat juga teknologi), hingga menjumpai famili di Amerika sana untuk sekedar menanyakan, “Apa kabar, om?” Itupun bila tiba dengan selamat setelah bertahun-tahun perjalanan dan tidak dimakan ikan hiu.



Santri dan Teknologi Tepat Guna
Yang perlu dikhawatirkan dari teknologi adalah penggunanya. Bagaimanapun teknologi adalah benda mati yang tidak mengkhawatirkan selama tidak digunakan dengan salah. Sebaliknya, bila digunakan serampangan, maka pisau dapur pun bisa menjadi alat yang sangat mengerikan.

Dalam skala yang lebih besar, bila alat transportasi roket digunakan untuk kepentingan riset ilmiah, untuk menerbangkan astronot ke bulan atau International Space Station, mengorbitkan satelit, atau bahkan mengirim robot ke planet dan asteroid yang mungkin untuk dijangkau, maka kita bisa saja mempelajari hal-hal baru dari riset yang dilakukan ilmuwan dengan bantuan roket itu. Tetapi bila roket dikendalikan oleh orang-orang dengan misi untuk mengirimkan bom hidrogen ke Banda Aceh, maka habislah kita.

Oleh karena itu, edukasi tentang penggunaan teknologi tepat guna itu menjadi sangat penting. Akhlak penggunanya perlu dibina terus menerus disamping cara menggunakannya juga perlu ditata dan ajarkan dengan benar. Tidak benar bila disebutkan pisau tidak melukai, akan tetapi pisau justru sengaja ditajamkan dengan mengasahnya untuk memotong ikan, sayur, daging, dan lainnya.

Itu pula yang sedang kita lakukan akhir-akhir ini, mengajak santri untuk tidak melulu prihatin terhadap perkembangan teknologi informasi dewasa ini, tetapi justru menggunakannya untuk hal-hal yang positif, dalam ukuran yang mungkin untuk dipelajari oleh santri.

Misalnya, jika dulu internet hanya digunakan untuk main Facebook, maka kebiasaan main facebook yang hanya sekedar untuk update status kita arahkan untuk menulis pesan yang panjang sekalian melalui blog. Mudah-mudahan bisa muncul generasi penulis di masa depan yang pernah nyantri di dayah ini. Bila dulu santri biasanya Cuma bisanya selfie, kenapa tidak diajarkan fotografi jurnalistik sekalian, biar bisa lebih luas manfaatnya. Bila dulu santri Cuma tahunya nonton sidang isbat, setiap akhir Sya’ban dan jelang Syawal, kenapa nggak beli teleskop sekalian biar santrinya bisa belajar untuk mengamati hilal sendiri dan belajar menjadi astronom/ahli falak sejak dini. Dulu santri hanya bisa menyuruh pembinanya mendesain dan membuatkan undangan, spanduk, bet, kreasi operet dan lainnya, kenapa nggak sekalian santri diajarkan agar bisa membuatnya sendiri? Semuanya kemudian memanfaatkan teknologi. Darul Ulum melalui bidang PTIA telah jauh hari memulai langkah ini, agar santri dapat menggunakan teknologi secara tepat guna.

Begitulah seharusnya kita mengisi zaman teknologi yang katanya edan ini, karena mengeluh, karena menjadi cengeng, karena menggerutu, hanya sindir sana sindir sini, bukanlah solusinya. Banyaknya konten negatif bersilewaran di internet, bukan berarti kita harus menjadikan teknologi sebagai musuh, akan tetapi, konten negatifnya kita hindari, dan teknologinya kita jadikan pisau dapur yang betul-betul bisa bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.

Santri perlu menanamkan rasa benci terhadap hal-hal negatif yang tidak bermanfaat, tetapi segera balik dan bangun, berjihad melawannya, balik dan menangkan pertarungan, dengan menjadi laskar pengisi konten yang positif penuh manfaat di setiap sudut, baik itu di atas mimbar, di ruang-ruang madrasah, di tengah-tengah masyarakat, di pemerintahan, maupun di dunia maya.


---
Tulisan ini saya buat dalam rangka memberikan contoh cara mengekspresikan respon terhadap masalah sosial di lingkungan sekitar ke dalam blog pribadi santri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...