Langsung ke konten utama

Saeni, Si Penjual Nasi di Siang Puasa dan Media-media Troller

Kalau soal drama Indonesia memang selalu juara. Nggak heran kalau Cinta Fitri bisa sampai ratusan episode. Apalagi kalau temanya terkait sentimen beragama, wah.. digoreng enak, dipanggang juga nikmat.

Yang paling kasihan adalah awam yang bahkan tidak tahu duduk persoalan.

Mereka serius menyimak dan emosi melihat tindak tanduk penguasa, LSM, dan media yang terkesan membela pedagang kecil. Padahal di balik itu ada olok-olok dari kaum liberal dan non muslim terhadap muslim yang (berusaha) taat dan perputaran uang dari laku kerasnya berita soal ini. Ingat, semakin banyak orang yang membaca koran atau datang mengunjungi sebuah situs berita, semakin meningkat nilai/value iklan di media tersebut.

Siapa Saeni dan ada apa dengan Saeni?

Khusus soal olok-olok, sudah bukan rahasia jika di media sosial dan forum-forum sosial politik yang katanya tidak boleh membahas tentang SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), atas nama kebebasan berpendapat, mereka berbicara dan mengritik secara bebas tentang agama lain. Dalam diskusi tersebut, olok-olok lebih dominan dibanding diskusi dengan inti yang terarah.

Kebiasan seperti itu kini mulai menyebar secara terbuka di kehidupan bermasyarakat melalui media mainstream. Lihat contohnya, bagaimana kerasnya Aceh diopinikan sebagai Serambi Sesat dibandingkan Serambi Mekkah saat menggelorakan Syariat Islam, saat mengumandangkan perang terhadap LGBT, atau saat adanya penemuan ganja besar-besaran. Dibanding menyorot keberhasilan Aceh menekan angka cabul yang tinggi (dibanding kota lain yg tidak menerapkan Syariat Islam), atau apreasiasi terhadap Polda Aceh yang berhasil mengungkap proses peredaran ganja sampai ke akarnya, yang lebih menonjol adalah bagaimana Aceh dipersepsikan sebagai wilayah yang gagal menerapkan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia. Juga sama halnya ketika Aceh menerapkan hukuman cambuk terhadap pelaku cabul yang tidak seberapa menyakitkan dibandingkan hukuman kebiri yang dibuat Pusat, tetapi resistensi media dan LSM terhadap Aceh lebih terasa dibandingkan untuk hukuman kebiri dari Pusat.

Sadarlah, bahwa kasus ini dibesarkan hanya karena sentimen negatif terhadap Islam oleh troller, yang tidak perlu difikirkan terlalu serius. Untuk kasusnya sendiri bisa selesai dengan meminta klarifikasi dari kedua belah pihak, dipertemukan, dan dicari kebenaran informasi dan kejadian sebenarnya. Bukan ikut-ikutan heboh nggak jelas. Eh btw kasusnya jauh di tempat orang. Ya sudah, biar pihak yang berkepentingan di sana saja yang mengurus. Kita di sini cukup diam dan menonton saja.

Hanya saja, dalam diam, kita tetap perlu menunjukkan citra Islam yang hakiki setiap saat dengan kesantunan bertutur kata dan sikap, dan duduk bersama mencari solusi bila menemukan masalah di sekitar di kemudian hari, dibandingkan terus ngedumel mengomentari hal-hal yang tidak terlalu serius ini.

Nanti sore buka pakai apa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Senioritas

Anda seorang manusia biasa yang berorganisasi, sekolah, kuliah, kerja, dan hidup bermasyarakat? Tentu tidak asing dengan istilah senioritas bukan? Menjadi seorang senior bagi sebagian orang merupakan sebuah kebanggaan, entah karena pengalaman yang dimiliki, ilmu atau entah karena umur yang lebih tua (atau juga karena umurnya muda tampangnya doang yang tua, hehehe). Perasaan memiliki nilai lebih dari yang lebih muda karena lebih dulu mengalami hal yang dialami oleh pendatang baru (junior) acap kali membuat sang senior lupa bahwa beliau dulu pernah menjadi seorang junior. Senior umumnya menginginkan diri mereka dihormati oleh para junior walau bagaimanapun juga, merasa ingin selalu diutamakan dari juniornya, meskipun ada juga yang tidak demikian (senior yang baik, hehe). Jika pendefinisian umum senioritas seperti apa yang teruraikan di atas, maka hal ini tidaklah jauh dari penyakit yang dinamakan dengan ujub. So what is ujub mean? Chek it out! Ujub adalah sifat seseor...