Usai kelas berakhir, dua santriwan mencegat saya di pintu saat hendak keluar. Salah satunya dari kelas sebelah. Dia meminta izin untuk menanyakan lanjutan pertanyaan dari pembahasan minggu lalu yang mengganggu pikirannya. "Mengapa Allah menurunkan agama samawi tidak langsung sekaligus sempurna selayaknya ajaran Islam? Mengapa baru pada masa Rasulullah Muhammad saw Allah menurunkan risalah yang paripurna?"
Sedangkan seorang lagi meminta sedikit privasi karena yang ingin ditanyakan adalah permasalahan suami isteri tentang anak sepersusuan. Katanya dia malu jika teman-temannya mendengar dan menyangka pertanyaan itu darinya. Dia memberitahu saya jika itu adalah pertanyaan titipan dari saudara temannya. Kami kemudian berdiskusi ringan di luar kelas hingga rasa ingin tahunya terselesaikan dengan baik. Di akhir diskusi dia mengatakan, "Masya Allah, saya baru kelas 2 SMA tapi sudah tahu banyak soal suami istri." Saya terkekeh dan meyakinkannya bahwa memang dia berhak tahu segalanya tentang itu, sebab ini tentang ilmu dan dia telah cukup dewasa untuk tahu.
Saya senang mendapatkan pertanyaan demikian. Ini berarti upaya saya untuk bisa membuat diskusi terbuka dalam setiap sesi belajar berhasil membuat anak-anak 'pendiam' itu untuk berani bertanya. Bahkan di luar kelas! Pun tidak hanya pertanyaan biasa, tetapi juga pertanyaan yang biasanya dianggap tabu untuk diperbincangkan di depan khalayak ramai.
Biasanya, anak-anak ini cenderung diam dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Berkali-kali saya meyakinkan bahwa bertanya di dalam majelis ilmu adalah tempatnya untuk bertanya semua pertanyaan, termasuk yang nyeleneh & dikira tabu. Awal-awalnya saya harus sering-sering balik melemparkan kasus dan bertanya kepada mereka dan terkadang harus menjawabnya sendiri. Tetapi akhir-akhir ini, pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sudah sering dilontarkan di dalam kelas. Itu baik.
Di hari yang lain saya juga mendapatkan pertanyaan yang cukup serius dari seorang santriwati kelas dua wustha (2 MTs). Dia menanyakan, "Allah menghendaki hambanya untuk bisa hidup pada jalan kebaikan, tetapi mengapa Allah tidak menciptakan semua orang menjadi baik? Mengapa harus ada orang jahat? Malah mereka dihukum masuk neraka karena kejahatannya? Bukankah Allah Maha Kuasa untuk menciptakan apapun termasuk menjadikan semua orang menjadi baik?" Awalnya saya kaget. Bagaimana bisa anak seusianya bisa mengajukan pertanyaan tentang konsep keadilan Tuhan yang sering diperdebatkan itu? Tapi buru-buru saya singkirkan rasa kaget yang tidak perlu & berusaha menjabarkannya dengan bahasa sesederhana mungkin hingga dia paham, meskipun saya tidak mengasuh pelajaran Tauhid di kelas itu.
Rentetan pertanyaan demikian sering membuat saya berfikir, bahwa sungguh sebenarnya pada masing-masing anak itu punya pertanyaan misteri yang mereka simpan karena ketidakterbukaan gurunya. Ketika mereka mengemukakan pertanyaannya, kadang-kadang kita pun agak kikuk menjawabnya. Tapi inilah, kalau mereka tidak menanyakan, selamanya mereka akan kebingungan dan mungkin akan mencari-cari sendiri jawabannya. Bila mendapatkan sumber yang baik, okelah, namun bila ternyata sumbernya tidak benar, kacaulah pikiran anak orang. Inilah kenapa, sering saya kompori anak-anak untuk bertanya apa pun, tentang apa pun. Bila saya tidak sanggup menjawabnya, maka akan saya tunda dan cari tahu jawabannya kepada yang lebih ahli dari saya.
Soal ini ternyata ada hubungannya dengan rasa percaya, trust. Saya pernah menanyakan balik kepada santriwati kelas 3 wustha yang bertanya tentang cara beristinja' tanpa air, mengapa dia tidak bertanya hal demikian kepada gurunya? Pertanyaan demikian juga saya ajukan pada santriwati aliyah yang bertanya tentang menstruasi dan permasalahan yang dihadapinya serta seorang santriwan kelas 1 wustha yang bertanya tentang fenomena hari akhir. Jawabannya ternyata itu, trust.
Latar pendidikan saya bukan di bidang pendidikan. Tapi dari hal-hal seperti ini saya jadi belajar sedikit demi sedikit bahwa membina keterbukaan, rasa percaya, adalah dua hal yang penting dalam pendidikan.
Sedangkan seorang lagi meminta sedikit privasi karena yang ingin ditanyakan adalah permasalahan suami isteri tentang anak sepersusuan. Katanya dia malu jika teman-temannya mendengar dan menyangka pertanyaan itu darinya. Dia memberitahu saya jika itu adalah pertanyaan titipan dari saudara temannya. Kami kemudian berdiskusi ringan di luar kelas hingga rasa ingin tahunya terselesaikan dengan baik. Di akhir diskusi dia mengatakan, "Masya Allah, saya baru kelas 2 SMA tapi sudah tahu banyak soal suami istri." Saya terkekeh dan meyakinkannya bahwa memang dia berhak tahu segalanya tentang itu, sebab ini tentang ilmu dan dia telah cukup dewasa untuk tahu.
Saya senang mendapatkan pertanyaan demikian. Ini berarti upaya saya untuk bisa membuat diskusi terbuka dalam setiap sesi belajar berhasil membuat anak-anak 'pendiam' itu untuk berani bertanya. Bahkan di luar kelas! Pun tidak hanya pertanyaan biasa, tetapi juga pertanyaan yang biasanya dianggap tabu untuk diperbincangkan di depan khalayak ramai.
Biasanya, anak-anak ini cenderung diam dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Berkali-kali saya meyakinkan bahwa bertanya di dalam majelis ilmu adalah tempatnya untuk bertanya semua pertanyaan, termasuk yang nyeleneh & dikira tabu. Awal-awalnya saya harus sering-sering balik melemparkan kasus dan bertanya kepada mereka dan terkadang harus menjawabnya sendiri. Tetapi akhir-akhir ini, pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sudah sering dilontarkan di dalam kelas. Itu baik.
Di hari yang lain saya juga mendapatkan pertanyaan yang cukup serius dari seorang santriwati kelas dua wustha (2 MTs). Dia menanyakan, "Allah menghendaki hambanya untuk bisa hidup pada jalan kebaikan, tetapi mengapa Allah tidak menciptakan semua orang menjadi baik? Mengapa harus ada orang jahat? Malah mereka dihukum masuk neraka karena kejahatannya? Bukankah Allah Maha Kuasa untuk menciptakan apapun termasuk menjadikan semua orang menjadi baik?" Awalnya saya kaget. Bagaimana bisa anak seusianya bisa mengajukan pertanyaan tentang konsep keadilan Tuhan yang sering diperdebatkan itu? Tapi buru-buru saya singkirkan rasa kaget yang tidak perlu & berusaha menjabarkannya dengan bahasa sesederhana mungkin hingga dia paham, meskipun saya tidak mengasuh pelajaran Tauhid di kelas itu.
Rentetan pertanyaan demikian sering membuat saya berfikir, bahwa sungguh sebenarnya pada masing-masing anak itu punya pertanyaan misteri yang mereka simpan karena ketidakterbukaan gurunya. Ketika mereka mengemukakan pertanyaannya, kadang-kadang kita pun agak kikuk menjawabnya. Tapi inilah, kalau mereka tidak menanyakan, selamanya mereka akan kebingungan dan mungkin akan mencari-cari sendiri jawabannya. Bila mendapatkan sumber yang baik, okelah, namun bila ternyata sumbernya tidak benar, kacaulah pikiran anak orang. Inilah kenapa, sering saya kompori anak-anak untuk bertanya apa pun, tentang apa pun. Bila saya tidak sanggup menjawabnya, maka akan saya tunda dan cari tahu jawabannya kepada yang lebih ahli dari saya.
Soal ini ternyata ada hubungannya dengan rasa percaya, trust. Saya pernah menanyakan balik kepada santriwati kelas 3 wustha yang bertanya tentang cara beristinja' tanpa air, mengapa dia tidak bertanya hal demikian kepada gurunya? Pertanyaan demikian juga saya ajukan pada santriwati aliyah yang bertanya tentang menstruasi dan permasalahan yang dihadapinya serta seorang santriwan kelas 1 wustha yang bertanya tentang fenomena hari akhir. Jawabannya ternyata itu, trust.
Latar pendidikan saya bukan di bidang pendidikan. Tapi dari hal-hal seperti ini saya jadi belajar sedikit demi sedikit bahwa membina keterbukaan, rasa percaya, adalah dua hal yang penting dalam pendidikan.
Komentar
Posting Komentar