Langsung ke konten utama

Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh?

Saya semula tidak tertarik mengomentari isu Aswaja vs Wahabi, sebab ilmu saya cetek. Tidak seperti mereka yang lain. Sebagai faqir ilmu, diam sambil mengamati, menyimak sambil mempelajari, adalah jalan yang saya ambil.

Lama kelamaan jenuh juga. Terlebih saat hal ini menjadi tidak jelas kemana ujungnya. Awal-awalnya nampaknya baik-baik saja saat mereka yang 'Aswaja' menuntut Mesjid Raya Baiturrahman menggunakan tongkat & menggulang khutbah saat pelaksanaan khutbah Jumat. Meski ketegangan sempat menyeruak, namun kemudian kebekuan mencair saat Imam berkenan melaksanakan apa yang disebut kesepakatan bersama untuk 'pegang tongkat & ulang khutbah' itu.

Substansi permasalahan nampaknya adalah keinginan kelompok Dayah untuk menerapkan fiqh mazhab Syafi'i & Aqidah Ahlussunnah wal jamaah yang menjadi pilar pendidikan di dayah-dayah salafi Aceh di semua tempat. Tidak hanya hal-hal pokok, namun juga hal-hal yang disebut dengan sunnah oleh Aswaja namun oleh yang lainnya disebut dengan bid'ah. Tidak terkecuali di mesjid kebanggaan rakyat Aceh.

Ini adalah hal yang bagus, menandakan bahwa idealisme kelompok dayah hidup & kuat untuk mempertahankan aqidah & mazhab yang diikutinya. Saya & keluarga juga mengikuti aqidah & mazhab yang serupa. Alhamdulillah, keluarga kami pun hidup & mengajarkan aqidah Ahlussunnah & Mazhab Syafi'i kepada murid-murid. Semasa abu masih ada, itu yang diajarkan kepada santrinya dari berbagai kelompok umur, berbagai mimbar khutbah, berbagai ruangan kampus. Pun saya demikian, meskipun tidak sebanyak abu, saya juga turut mengajarkan aqidah ahlussunnah dimana pun saya mengajar. Namun upaya menegakkan aqidah & mazhab yang saat ini terjadi kenapa harus berkembang menjadi ribut-ribut yang tidak produktif? Ini menyedihkan sekali.

Saya kira, isu ini layak untuk diangkat ke level yang lebih tinggi. Ribut-ribut di akar hanya akan buang-buang energi. Selama ini, ribut yang terjadi di akar rumput saya kira lebih disebabkan karena tidak adanya diskusi elit ulama di tingkat atas. Bila pun ada, lingkupnya terlalu kecil & tidak terbuka. Seharusnya, ulama seluruh Aceh duduk di meja makan & di meja diskusi yang lebar untuk membahas perbedaan-perbedaan di masyarakat, menghasilkan resolusi yang dapat disepakati & dijalankan bersama. Isu ini tidak layak dibiarkan mengambang & hanya menjadi ajang tiup-tiup angin oleh masyarakat kelas teri. Isu ini harus dibahas oleh ulama kelas kakap. Harus! Ribut-ribut di level bawah, hanya menghadirkan suara riuh rendah & berpotensi untuk lahirnya adu otot, saling tuding, saling curiga, yang dapat mencoreng citra Islam di bumi Serambi Mekkah ini.

Saya mengapresiasi apa yang sudah terjadi saat ribut-ribut 'pegang tongkat & ulang khutbah' tempo hari. Pemangku kepentingan duduk bersama ulama untuk membahas hal ini. Tapi itu hanya kulit luar! Diskusi seperti itu tidak boleh berhenti & harus dilanjutkan sampai kedua pihak bisa menemukan solusi jangka panjang & bisa hidup berdampingan tanpa saling curiga.

Kita tentu tidak ingin, Aceh berubah menjadi tempat yang menyeramkan. Peradaban Islam yang santun, penuh dialektika konstruktif seperti yang ditunjukkan ulama-ulama terdahulu, yang bercirikan rahmatan lil'alamin, berubah menjadi bergaya pentungan & marah-marah seperti di tempat-tempat lain. Di saat di tempat lain sulit untuk hidup berdampingan dengan yang tidak seagama, kita di Aceh justru bisa menerapkan Syariat Islam tanpa mengusik harmoni kehidupan antar umat beragama. Eh, sekarang malah ribut dengan sesama Islam?

Semua pihak perlu instrospeksi diri & menyadari bahwa tanpa dialog ideologis oleh ahlinya, isu ini hanya akan menjadi hal sampah yang tidak bermanfaat. Atau setidaknya bermanfaat kecil namun memunculkan mudharat yang besar di kemudian hari. Bila pun ada perbedaan pendapat, silahkan berperang di meja diskusi dengan dalil masing-masing sampai berbuih-buih, tidak membiarkan hal ini berkembang menjadi perang urat saraf yang berlangsung lama di kalangan masyarakat.

Dalam kesempatan seperti ini, pemerintah tidak boleh memihak. Dia adalah juri yang diharapkan bersikap adil. Kita tidak ingin, nantinya kenangan pahit masa lalu terulang kembali. Ribut-ribut sesama muslim di Aceh, kafir Helsinki yang harus turun tangan untuk mendamaikan. Jangan sampai, ribut-ribut Aswaja & Wahabi kali ini, justru harus Vatikan yang mendamaikan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...