Saya semula tidak tertarik mengomentari isu Aswaja vs Wahabi, sebab ilmu saya cetek. Tidak seperti mereka yang lain. Sebagai faqir ilmu, diam sambil mengamati, menyimak sambil mempelajari, adalah jalan yang saya ambil.
Lama kelamaan jenuh juga. Terlebih saat hal ini menjadi tidak jelas kemana ujungnya. Awal-awalnya nampaknya baik-baik saja saat mereka yang 'Aswaja' menuntut Mesjid Raya Baiturrahman menggunakan tongkat & menggulang khutbah saat pelaksanaan khutbah Jumat. Meski ketegangan sempat menyeruak, namun kemudian kebekuan mencair saat Imam berkenan melaksanakan apa yang disebut kesepakatan bersama untuk 'pegang tongkat & ulang khutbah' itu.
Substansi permasalahan nampaknya adalah keinginan kelompok Dayah untuk menerapkan fiqh mazhab Syafi'i & Aqidah Ahlussunnah wal jamaah yang menjadi pilar pendidikan di dayah-dayah salafi Aceh di semua tempat. Tidak hanya hal-hal pokok, namun juga hal-hal yang disebut dengan sunnah oleh Aswaja namun oleh yang lainnya disebut dengan bid'ah. Tidak terkecuali di mesjid kebanggaan rakyat Aceh.
Ini adalah hal yang bagus, menandakan bahwa idealisme kelompok dayah hidup & kuat untuk mempertahankan aqidah & mazhab yang diikutinya. Saya & keluarga juga mengikuti aqidah & mazhab yang serupa. Alhamdulillah, keluarga kami pun hidup & mengajarkan aqidah Ahlussunnah & Mazhab Syafi'i kepada murid-murid. Semasa abu masih ada, itu yang diajarkan kepada santrinya dari berbagai kelompok umur, berbagai mimbar khutbah, berbagai ruangan kampus. Pun saya demikian, meskipun tidak sebanyak abu, saya juga turut mengajarkan aqidah ahlussunnah dimana pun saya mengajar. Namun upaya menegakkan aqidah & mazhab yang saat ini terjadi kenapa harus berkembang menjadi ribut-ribut yang tidak produktif? Ini menyedihkan sekali.
Saya kira, isu ini layak untuk diangkat ke level yang lebih tinggi. Ribut-ribut di akar hanya akan buang-buang energi. Selama ini, ribut yang terjadi di akar rumput saya kira lebih disebabkan karena tidak adanya diskusi elit ulama di tingkat atas. Bila pun ada, lingkupnya terlalu kecil & tidak terbuka. Seharusnya, ulama seluruh Aceh duduk di meja makan & di meja diskusi yang lebar untuk membahas perbedaan-perbedaan di masyarakat, menghasilkan resolusi yang dapat disepakati & dijalankan bersama. Isu ini tidak layak dibiarkan mengambang & hanya menjadi ajang tiup-tiup angin oleh masyarakat kelas teri. Isu ini harus dibahas oleh ulama kelas kakap. Harus! Ribut-ribut di level bawah, hanya menghadirkan suara riuh rendah & berpotensi untuk lahirnya adu otot, saling tuding, saling curiga, yang dapat mencoreng citra Islam di bumi Serambi Mekkah ini.
Saya mengapresiasi apa yang sudah terjadi saat ribut-ribut 'pegang tongkat & ulang khutbah' tempo hari. Pemangku kepentingan duduk bersama ulama untuk membahas hal ini. Tapi itu hanya kulit luar! Diskusi seperti itu tidak boleh berhenti & harus dilanjutkan sampai kedua pihak bisa menemukan solusi jangka panjang & bisa hidup berdampingan tanpa saling curiga.
Kita tentu tidak ingin, Aceh berubah menjadi tempat yang menyeramkan. Peradaban Islam yang santun, penuh dialektika konstruktif seperti yang ditunjukkan ulama-ulama terdahulu, yang bercirikan rahmatan lil'alamin, berubah menjadi bergaya pentungan & marah-marah seperti di tempat-tempat lain. Di saat di tempat lain sulit untuk hidup berdampingan dengan yang tidak seagama, kita di Aceh justru bisa menerapkan Syariat Islam tanpa mengusik harmoni kehidupan antar umat beragama. Eh, sekarang malah ribut dengan sesama Islam?
Semua pihak perlu instrospeksi diri & menyadari bahwa tanpa dialog ideologis oleh ahlinya, isu ini hanya akan menjadi hal sampah yang tidak bermanfaat. Atau setidaknya bermanfaat kecil namun memunculkan mudharat yang besar di kemudian hari. Bila pun ada perbedaan pendapat, silahkan berperang di meja diskusi dengan dalil masing-masing sampai berbuih-buih, tidak membiarkan hal ini berkembang menjadi perang urat saraf yang berlangsung lama di kalangan masyarakat.
Dalam kesempatan seperti ini, pemerintah tidak boleh memihak. Dia adalah juri yang diharapkan bersikap adil. Kita tidak ingin, nantinya kenangan pahit masa lalu terulang kembali. Ribut-ribut sesama muslim di Aceh, kafir Helsinki yang harus turun tangan untuk mendamaikan. Jangan sampai, ribut-ribut Aswaja & Wahabi kali ini, justru harus Vatikan yang mendamaikan!
Lama kelamaan jenuh juga. Terlebih saat hal ini menjadi tidak jelas kemana ujungnya. Awal-awalnya nampaknya baik-baik saja saat mereka yang 'Aswaja' menuntut Mesjid Raya Baiturrahman menggunakan tongkat & menggulang khutbah saat pelaksanaan khutbah Jumat. Meski ketegangan sempat menyeruak, namun kemudian kebekuan mencair saat Imam berkenan melaksanakan apa yang disebut kesepakatan bersama untuk 'pegang tongkat & ulang khutbah' itu.
Substansi permasalahan nampaknya adalah keinginan kelompok Dayah untuk menerapkan fiqh mazhab Syafi'i & Aqidah Ahlussunnah wal jamaah yang menjadi pilar pendidikan di dayah-dayah salafi Aceh di semua tempat. Tidak hanya hal-hal pokok, namun juga hal-hal yang disebut dengan sunnah oleh Aswaja namun oleh yang lainnya disebut dengan bid'ah. Tidak terkecuali di mesjid kebanggaan rakyat Aceh.
Ini adalah hal yang bagus, menandakan bahwa idealisme kelompok dayah hidup & kuat untuk mempertahankan aqidah & mazhab yang diikutinya. Saya & keluarga juga mengikuti aqidah & mazhab yang serupa. Alhamdulillah, keluarga kami pun hidup & mengajarkan aqidah Ahlussunnah & Mazhab Syafi'i kepada murid-murid. Semasa abu masih ada, itu yang diajarkan kepada santrinya dari berbagai kelompok umur, berbagai mimbar khutbah, berbagai ruangan kampus. Pun saya demikian, meskipun tidak sebanyak abu, saya juga turut mengajarkan aqidah ahlussunnah dimana pun saya mengajar. Namun upaya menegakkan aqidah & mazhab yang saat ini terjadi kenapa harus berkembang menjadi ribut-ribut yang tidak produktif? Ini menyedihkan sekali.
Saya kira, isu ini layak untuk diangkat ke level yang lebih tinggi. Ribut-ribut di akar hanya akan buang-buang energi. Selama ini, ribut yang terjadi di akar rumput saya kira lebih disebabkan karena tidak adanya diskusi elit ulama di tingkat atas. Bila pun ada, lingkupnya terlalu kecil & tidak terbuka. Seharusnya, ulama seluruh Aceh duduk di meja makan & di meja diskusi yang lebar untuk membahas perbedaan-perbedaan di masyarakat, menghasilkan resolusi yang dapat disepakati & dijalankan bersama. Isu ini tidak layak dibiarkan mengambang & hanya menjadi ajang tiup-tiup angin oleh masyarakat kelas teri. Isu ini harus dibahas oleh ulama kelas kakap. Harus! Ribut-ribut di level bawah, hanya menghadirkan suara riuh rendah & berpotensi untuk lahirnya adu otot, saling tuding, saling curiga, yang dapat mencoreng citra Islam di bumi Serambi Mekkah ini.
Saya mengapresiasi apa yang sudah terjadi saat ribut-ribut 'pegang tongkat & ulang khutbah' tempo hari. Pemangku kepentingan duduk bersama ulama untuk membahas hal ini. Tapi itu hanya kulit luar! Diskusi seperti itu tidak boleh berhenti & harus dilanjutkan sampai kedua pihak bisa menemukan solusi jangka panjang & bisa hidup berdampingan tanpa saling curiga.
Kita tentu tidak ingin, Aceh berubah menjadi tempat yang menyeramkan. Peradaban Islam yang santun, penuh dialektika konstruktif seperti yang ditunjukkan ulama-ulama terdahulu, yang bercirikan rahmatan lil'alamin, berubah menjadi bergaya pentungan & marah-marah seperti di tempat-tempat lain. Di saat di tempat lain sulit untuk hidup berdampingan dengan yang tidak seagama, kita di Aceh justru bisa menerapkan Syariat Islam tanpa mengusik harmoni kehidupan antar umat beragama. Eh, sekarang malah ribut dengan sesama Islam?
Semua pihak perlu instrospeksi diri & menyadari bahwa tanpa dialog ideologis oleh ahlinya, isu ini hanya akan menjadi hal sampah yang tidak bermanfaat. Atau setidaknya bermanfaat kecil namun memunculkan mudharat yang besar di kemudian hari. Bila pun ada perbedaan pendapat, silahkan berperang di meja diskusi dengan dalil masing-masing sampai berbuih-buih, tidak membiarkan hal ini berkembang menjadi perang urat saraf yang berlangsung lama di kalangan masyarakat.
Dalam kesempatan seperti ini, pemerintah tidak boleh memihak. Dia adalah juri yang diharapkan bersikap adil. Kita tidak ingin, nantinya kenangan pahit masa lalu terulang kembali. Ribut-ribut sesama muslim di Aceh, kafir Helsinki yang harus turun tangan untuk mendamaikan. Jangan sampai, ribut-ribut Aswaja & Wahabi kali ini, justru harus Vatikan yang mendamaikan!
Komentar
Posting Komentar