Langsung ke konten utama

Sudut Pandang

Sebenarnya koin di samping hanya satu. Gambar komodo dan tulisan Rp100000 adalah salah satu sisi dari koin tersebut, sedangkan gambar burung garuda adalah sisi yang lainnya. Jika koin diletakkan di atas telapak tangan, maka yang akan tampak adalah salah satu dari dua sisi koin tersebut. Bisa saja yang tampak adalah sisi komodo, bisa juga sisi burung garuda.

Nah, bagaimana jika kasusnya seperti ini. Ada 3 orang (A, B, C) berdiri dalam posisi segitiga. 2 orang (A & B) berdiri saling berhadapan satu sama lain, sedangkan satu orang lainnya (C) berdiri di tengah-tengah keduanya dengan sedikit jarak dari titik tengah ke posisi C, sehingga menyisakan ruang di antara A & B. Lalu C memegang koin tersebut di tangannya, tidak ada satu sisi pun yang mengarah padanya. Koin itu hanya tampak bagai garis lurus jika dilihat dari posisi C. Sedangkan A & B hanya dapat melihat salah satu sisi saja dari koin tersebut.

Apa yang akan terjadi kemudian? Mungkinkah A & B akan memiliki gambaran yang sama tentang sisi koin? Tentu jawabannya tidak. Salah satu dari keduanya akan melihat komodo, satunya lagi akan melihat burung garuda. Bisa saja A yang melihat komodo, namun ada juga kemungkinan jika A melihat sisi burung garuda. Demikian juga dengan B, yang berpotensi melihat komodo atau burung garuda. Semua itu tergantung dari sisi mata uang yang terpantau oleh A dan B. Namun yang pasti, keduanya dapat menjelaskan bahwa itu adalah koin. Hanya saja, salah satu dari A & B akan menjelaskan ciri koin yang berbeda, sesuai dengan sisi yang tampak padanya.

Sudut Pandang

Inilah yang disebut dengan sudut pandang. Seseorang melihat sesuatu dari sisi dimana posisinya berada saat itu. Sudut pandang juga dipengaruhi oleh sisi objek yang dapat disaksikannya.



Dalam ranah pemikiran, sudut pandang akan membentuk wacana bagi pemikir. Sudut pandang ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah latar belakang pendidikan, budaya, agama, kondisi sosial politik, juga metode fikir yang digunakan.

Oleh karena itulah, perbedaan pendeskripsian sesuatu, perbedaan pendapat, perbedaan teori, dan sebagainya dapat terbentuk. Kita sering bukan mendapatkan perbedaan pendapat? Padahal yang dibahas adalah hal yang sama. Kita juga sering mendapatkan perbedaan deskripsi antar satu orang dengan yang lain, padahal yang dibicarakan juga objek yang sama.

Dalam urusan agama pun, ada perbedaan sudut pandang yang menghasilkan buah pemikiran yang berbeda-beda pula. Namun tetap dalam maksud untuk menjelaskan hal yang sama. Sebut saja salah satu contohnya, kitab tafsir. Mengapa bisa ada ada kitab tafsir Jalalain, Qurthubi, bahkan sampai kepada Al-Azhar, al-Misbah, dan banyak kitab tafsir lainnya, padahal yang dibahas adalah ayat-ayat al-Quran? Penyebabnya juga sama, sudut pandang.

Sering kali sudut pandang ini akan mengarahkan peninjau pada maksud yang sama, berbeda cara pengungkapan namun maksudnya adalah sama. Namun kadangkala sudut pandang juga menimbulkan masalah, jika sudut pandang yang digunakan tidak didukung oleh keilmuan yang tepat untuk membahas objek tertentu. Misalnya, ilmu Fiqh digunakan untuk membangun fondasi bernegara, hasilnya adalah tidak nyambung. Atau ilmu sosial ekonomi digunakan dalam penafsiran ayat-ayat Al-Quran tentang hari akhir, hasilnya juga tidak nyambung.

Metode, latar belakang, objek yang diamati, berperan dalam pembentukan sudut pandang. 

Untuk itu, hargailah perbedaan. Mungkin saja orang lain memiliki cara pandang yang berbeda dengan keilmuwan Anda, sehingga pendapatnya bisa berbeda dengan Anda. Sedangkan Anda punya cara pandang tersendiri, yang juga berhak untuk dihargai oleh orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...