Langsung ke konten utama

Senioritas

Anda seorang manusia biasa yang berorganisasi, sekolah, kuliah, kerja, dan hidup bermasyarakat? Tentu tidak asing dengan istilah senioritas bukan?
Menjadi seorang senior bagi sebagian orang merupakan sebuah kebanggaan, entah karena pengalaman yang dimiliki, ilmu atau entah karena umur yang lebih tua (atau juga karena umurnya muda tampangnya doang yang tua, hehehe).

Perasaan memiliki nilai lebih dari yang lebih muda karena lebih dulu mengalami hal yang dialami oleh pendatang baru (junior) acap kali membuat sang senior lupa bahwa beliau dulu pernah menjadi seorang junior. Senior umumnya menginginkan diri mereka dihormati oleh para junior walau bagaimanapun juga, merasa ingin selalu diutamakan dari juniornya, meskipun ada juga yang tidak demikian (senior yang baik, hehe).

Jika pendefinisian umum senioritas seperti apa yang teruraikan di atas, maka hal ini tidaklah jauh dari penyakit yang dinamakan dengan ujub. So what is ujub mean? Chek it out!
Ujub adalah sifat seseorang dimana ia merasa dirinya lebih baik hingga menolak kebaikan orang lain, bangga dan senang dengan dirinya, senang dengan yang diucapkannya, yang diperbuatnya hingga meremehkan orang lain.


Ujub ini bukanlah sifat yang baik, ini adalah penyakit hati yang dimiliki oleh sebagian yang dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab.
1. Faktor Lingkungan dan Keturunan
Nah, kebiasaan baik dan buruk itu biasanya berawal dari keluarga. Termasuk persoalan senioritas yang sedang kita bahas ini. Bagi yang tertular virus bangga dengan sikap senioritas ini yang cenderung melemahkan posisi para junior, mungkin saja didikan dalam keluarnya sendiri itu tidak bener. Ayah yang otoriter, kakak dan abang yang kejam sama adik2nya, atau sikap bossy selama di rumah dan lingkungan pergaulannya itu juga berperan dalam memakmurkan pemikiran 'senioritas dalam arti miring' ini.
2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan
Sanjungan dan pujian berlebih yang diterima seseorang dapat membuat orang tersebut menjadi tinggi hati dan membuatnya merasakan bahwa orang lain tak ada yang dapat menyamai kedudukannya dalam hai ini. Ini juga menimbulkan ujub dan berperan penting dalam pembentukan pola pikir senioritas miring ini.
3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub.
Lah ini nih yang gak kalah berbeda dengan poin pertama. Bila dalam perkuliahan, pada tahun-tahun pertama kuliah itu adik-adik baru itu biasanya manut-manut aja sama abang letingnya kalau ada informasi atau apa pun dari seniornya, bahkan tak jarang ada juga senior yang 'dipaksa falling in love' with seniornya, wkwkwk.. (but sorry, ini bukan pengalaman pribadi ye!). Kemudian pada tahun kedua sifat buruk itu merasuki adik-adik baru itu dan mengimplementasikannya pada adik-adik barunya. Begitu seterusnya sehingga kebiasaan buruk itu terus hidup dan melegenda dalam keseharian aktifitas kampus, sekolah, kantor, maupun di masyarakat. Cabe dee..
4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Seseorang yang berkesempatan mencicipi nikmat umur yang diberikan oleh Allah swt sudah semestinya menggunakan apa yang dianugerahkan padanya itu dengan cara mengisi umurnya itu dengan melaksanakan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat dan sekali-kali tidak mencederai perasaan orang lain. Jelas sekali bila ternyata orang yang menganggap dirinya senior dan bebas berlaku seenaknya terhadap junior bahkan 'mengintimidasinya' bukanlah ciri orang yang bersyukur kepada Allah.
5. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan Belum Terbina Dengan Sempurna
Pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah ‘sudah dipetik sebelum matang’. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia.
6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa senioritas miring ini bisa timbul karena yang bersangkutan lupa bahwa dulu doi pernah jadi junior juga.
7. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub

Hmm.. Andaikan saja kita tahu bahwa ujub atau yang lebih spesifiknya menganut prinsip senioritas ini bukanlah hal yang baik dan justru akan memperlemah posisi tawar sebagai abang dan kakak yang tulus mengasihi adik-adiknya, tentu senioritas ini tidak perlu terjadi.
Bayangkan saja, senioritas 'miring' ini, jelas-jelas bukanlah hal yang baik dan justru bersifat destruktif, dan apabila diamalkan, woogghh... tentu saja akan berakibat fatal bagi dirinya sendiri.. catat nih akibatnya :
1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
Ya, ujub itu menggiring korbannya menjadi sombong. Kalo butuh bukti silahkan liat sekeliling.
2. Dijauhkan dari pertolongan Allah.
Secara naluriah, manusia menolak sifat sombong. Sombong itu malapetaka besar yang menjerat manusia menjadi jauh dalam pergaulannya dengan manusia yang lain. Orang sombong itu kawannya juga sedikit. Ketika membutuhkan pertolongan, sangat sulit mendapatkan orang yang mau membantu dengan tulus. Allah sendiri tidak menyukai manusia yang sombong. Makanya jangan orang banyak orang sombong yang pada akhirnya mengalami keterpurukuan (sedikit memberikan ancaman, hehe.. pis!)
3. Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.
Kalau sudah sombong, jauh dari pertolongan Allah, yang jelas kemudian akan terpuruk dan dijauhi oleh orang-orang.
4. Dibenci dan dijauhi orang-orang.
Idem sama yang di atas :p

Namun apakan senioritas itu selamanya bersifat negatif? Selalu digosipkan miring?
O... belum tentu kawan! Senioritas itu bukanlah jenis makanan haram yang termaktub secara tertulis di dalam al-Qur'an dan Hadits.

Senioritas itu menjadi baik apabila memang dijalankan dengan baik, dan menjadi buruk apabila memang dijalankan dengan buruk. Adalah hal yang lumrah bila yang tua itu dihormati, TAAPIIIII... yang muda juga harus disayangi.

Dalam pengertian yang lain, menjadi senior itu bukanlah tujuannya untuk merasakan diri lebih dari para junior, tetapi menjadi seorang senior adalah untuk bisa membimbing yang muda menjadi pribadi yang lebih baik. Ajang orientasi siswa baru bukanlah waktunya bagi senior untuk mengasah teriakan kuatnya semata, atau menjadikan kekuatan superpowernya untuk melakukan penindasan atas mahasiswa-mahasiswa baru. Mestinya momen ini menjadi saat yang tepat untuk membekali adik-adik baru dengan semangat-semangat yang baru, motivasi yang baik, perkenalan dan sebagainya, sehingga adik2 baru itu kelak menjadi mahasiswa-mahasiswa yang siap dan berkompeten.

Bila ingin dihormati, maka hormatilah orang lain dan apabila mendapatkan perhormatan, maka hargai dan balaslah penghormatan itu. Allah swt berfirman :
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)

Rasulullah saw perihal ujub :
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

wallahua'lam bish shawab

*Tulisan lama. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...