Langsung ke konten utama

"Nggak ada wifi? Jangan buka warung kopi!"

“Nggak ada wifi? Jangan buka warung kopi!” Demikian penuturan seorang teman saya yang sering ke warung kopi di Banda Aceh. Dia salah seorang penggemar setia warung kopi dan mengunjunginya setiap hari. Untuk menikmati kopi Aceh kah? Salah! Untuk menikmati internet gratis.

Hampir di setiap warung kopi di Banda Aceh kini dilengkapi oleh perangkat wifi, yang memungkinkan pengunjung untuk menggunakan fasilitas internet secara cuma-Cuma. Layanan internet gratis ini disediakan oleh pemilik warung kopi untuk menggaetpelanggan yang umumnya berusia muda dan gemar berselancar di internet. Maka tak mengherankan jika pemandangan warung kopi di Aceh terlihat seperti suasana kantoran. Hampir tidak ada satu meja pun yang tidak terdapat notebook costumer.

Dua hari yang lalu saya mengunjungi dua warung kopi berbeda di jalan T. Nyak Arief, Banda Aceh. Tujuan utama saya bukan untuk menikmati kopi, tapi sama seperti teman saya, untuk memanfaatkan wifi gratisnya. Hehe.. Ya, kebetulan saya sedang membuat website pribadi saya (http://bangrahmat.web.id ; sedang tidak aktif saat ini) dan butuh koneksi internet yang cepat untuk memudahkan kerja saya itu. Bila di rumah, saya biasanya menggunakan layanan IM2. Kecepatannya tak lebih seperti kura-kura sedang reumatik. Jadi warung kopi jelas menjadi teman yang baik dalam kondisi seperti ini.

Pada saat saya datangi tempo hari, dua warung kopi di Jalan T. Nyak Arief sedang mengalami gangguan pada koneksi internetnya. “Gangguan di Speedy-nya, Bang.” Kata pemilik Warung Kopi Q & L ketika saya tanyai. Dia terlihat sibuk menelpon dengan wajah tampak gelisah sambil sesekali terdengar mengeluh karena internetnya macet. Pengunjung warung kopinya jadi sepi.

Setelah mendapat penjelasan seperti itu, saya pun berpindah ke Wifi Zone, warung kopi bergaya anak muda yang juga masih di kawasan Jalan T. Nyak Arief Banda Aceh. Setelah saya nyalakan notebook saya, rupanya juga tidak mau terhubung. Salah satu pelayannya menghampiri saya dan mengatakan, “Gangguan, Bang. Udah dari semalam.” Saya melihat sekeliling, meja di warung kopi itu banyak yang kosong. Pantas sajalah sepi.

Seperti inilah Banda Aceh saat ini, Kota yang pernah diupayakan untuk menjadi Cyber City oleh walikotanya. Saat ini tampaknya sedang terjadi transformasi besar-besaran di warung kopi. Yang datang ke warung kopi tidak lagi mementingkan cita rasa kopinya, tapi kecepatan internetnya. Jadi, saya kira wajar bila ada yang nyeletuk, “Nggak ada wifi? jangan buka warung kopi!” hehe ...

Tulisan ini juga dimuat dan sempat jadi highlight di Kompasiana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...