Langsung ke konten utama

Keotonomian Manusia & Nasib Buruk


Manusia telah dibekali ke-otonomi-annya untuk berkehendak sesuka hatinya.
Sebagai processor untuk memilah-milah kegiatan, manusia juga dibekali dengan akal budi.
Dan untuk menilai baik-buruk dari pekerjaan yang dilakukannya, manusia dibekali dengan hati.
Dengan kemurahan Tuhan, manusia juga dibekali petunjuk, berupa al-Quran dan hadits Rasul-Nya.

    Jika kemudian kamu merasa terpuruk, jangan buru-buru menyatakan itu sudah kehendak Tuhan. Jangan-jangan kamu sendiri yang salah membuat keputusan. Jangan-jangan kamu sendiri yang mengabaikan perintah & larangan Tuhan. Jangan-jangan kamu sendiri yang tak menghargai diri kamu sendiri. Sehingga kamu pantas mendapatkan hasil yang buruk, sesuai dengan apa yang kamu upayakan.

    Allah telah begitu murah hati, pergunakanlah potensi diri sebaik-baiknya, bertaqwalah kepada Allah, lalu serahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

    Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...

    Agama Penghambat Kemajuan, benarkah?

    Baru saja membaca komentar di salah satu forum yang saya ikuti soal agama menghambat kemajuan. Isu lama yang kembali diangkat. Dan well, saya bersimpati pada yang menulis karena baginya, agama tak lebih sebagai hambatan. Agama dipersepsikan sebagai kekangan yang membuat sebuah bangsa menjadi sulit untuk maju. Baginya, agama adalah sebuah kesalahan. Padahal kenyataannya tidak begitu. Islam itu way of life, bukan tembok yang menghalangi kreatifitas. Islam adalah tuntunan untuk menjalani rutinitas dalam ketaatan kepada Allah. Selama itu baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan larangan Allah pada hal-hal yang telah jelas keharamannya, Allah memperbolehkan hambanya untuk melakukannya. Pada hal-hal yang demikian Rasulullah dalam haditsnya menyebut sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya. Lihat saja sebagai contoh, pekerjaan meneliti di laboratorium, untuk mencari kemaslahatan di bidang sains, atau melakukan perjalanan antar planet sekali pun, tidak ada larangan Allah terhadap hal demi...

    Kematian. Sebuah Renungan.

    "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." Demikian firman Allah dalam al-Qur'an surat ali-Imran ayat 185. Tak ada yang dapat mengelak kematian meskipun dia seorang raja yang paling zalim sekalipun, tidak pula jika dia adalah seorang Rasul Allah. Fir'aun yang melampaui batas, mengaku dirinya Tuhan, tewas mengenaskan, Rasulullah saw yang maksum (terbebas dari dosa) sekalipun, juga mengalami apa yang disebut dengan kematian.