Langsung ke konten utama

Ibadah Facebook

Seperti yang lain, saya juga menemukan kenikmatan tersendiri saat terhubung dengan sahabat-sahabat lama yang dulu sempat terpisah karena jarak di facebook ini, menemukan sahabat-sahabat baru dan bertukar fikiran, baik melalui update status, chatting via fb, foto-foto, maupun aplikasi tulisan di fb.

Pada status dan tulisan, begitu banyak hal yang diulas, mulai dari kehidupan pribadi, pengalaman, nasehat, hingga permasalahan-permasalahan aktual dipublikasikan ke teman-teman yang terhubung, menjadikan facebook ini bagaikan sebuah dunia baru yang dihuni oleh orang-orang jauh yang terasa 'dekat'.

Setiap hari, facebook dikunjungi oleh jutaan pengguna di seluruh dunia oleh orang yang sama. Ini menciptakan sebuah siklus yang unik bila ditilik lebih mendalam. Ada yang online pagi, malam lanjut lagi, kemudian besok pagi online kembali, malamnya lagi, dan begitu seterusnya, bahkan tak jarang yang rela berdiam di depan komputer berjam-jam hanya untuk berkomunikasi dengan melalui situs jejaring sosial yang satu ini, facebook.

Hal ini mengingatkan saya terhadap ibadah pokok umat muslim yang dilakukan 5 waktu setiap hari, shalat fardhu. Waktunya pun bersiklus, pagi (shubuh), siang (dhuhur), sore (Ashar), maghrib, dan malam hari (Isya), begitu terus berulang-ulang setiap hari dalam rentang waktu yang sama.

Pada proses perulangan ini, terjadi persamaan antara sembahyang fardhu dengan facebook yang juga diakses berulang-ulang saban hari, tergantung pada masing-masing usernya. ada yang suka online pada pagi hari, siang, sore, atau pun malam hari, atau dengan siklus yang tidak menentu, pokoknya tetap kembali online untuk mengakses facebook.

Meski terdapat persamaan, namun tak dapat disangkal juga terdapat perbedaan prinsipil di antara keduanya.
1. Shalat 5 waktu merupakan kewajiban langsung dari Allah dan Facebook adalah kewajiban dari user, baik untuk update status, main game, nulis-nulis, upload foto, dan lainnya.
2. Shalat fardhu waktunya jelas, subuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya, sedangkan Facebook bisa kapan saja, mau sehari sekali atau sehari berkali-kali pun terserah.
3. Shalat 5 waktu mendapat reward langsung dari Allah berupa pahala bila dilaksanakan dan punishment dosa bila ditinggalkan, sedangkan Facebook mendapatkan ... mendapatkan apa ya? hehe

Bayangkan, untuk suatu pekerjaan yang menyita banyak waktu dan bukan merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah, begitu banyak orang larut dalam euforia facebook dan menjadikannya kegiatan rutin harian yang tidak boleh sampai terlewatkan. Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang bila belum update status, bila belum menyapa teman, bila tidak main web based game yang disediakan facebook, bila tidak menulis tulisan entah apalah itu judulnya, dan hal-hal lain yang bisa dilakukan di facebook ini. Sedangkan untuk hal yang diwajibkan oleh Allah, shalat lima waktu, kadang-kadang sampai terlewatkan karena keasyikan berselancar di facebook. Padahal idealnya, shalat yang notabene merupakan 'ibadah wajib'-nya umat Islam mestilah mendapatkan perhatian yang lebih. Mestinya perasaan tidak enak itu muncul tatkala diri meninggalkan sembahyang, atau terlambat menunaikan kewajiban. (Penulis dalam hal ini tidak bermaksud ingin menyamakan semua orang demikian, karena ada juga yang masih dapat menyeimbangkan diri dengan teknologi, namun fakta di lapangan saat ini menunjukkan bahwa gejala 'demam facebook' ini memang sedang mewabah.)

Karena posisi facebook dalam kehidupan begitu kuat, facebook menjadi tampak tidak begitu berbeda dengan ritual ibadah yang dilakukan berulang-ulang setiap hari. Hanya saja ibadah facebook yang diciptakan oleh manusia ini tidak menghasilkan reward pahala dan punishment dosa seperti ibadah shalat fardhu yang diwajibkan oleh Allah swt, kecuali bila ternyata dalam penggunaannya menyinggung hal-hal yang dianjurkan dan dilarang oleh Allah, seperti berdakwah dengan facebook dan menggunakan facebook untuk tindak kriminal.

wallahua'lam..

*Tulisan lama. Pindahan dari note Facebook.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Senioritas

Anda seorang manusia biasa yang berorganisasi, sekolah, kuliah, kerja, dan hidup bermasyarakat? Tentu tidak asing dengan istilah senioritas bukan? Menjadi seorang senior bagi sebagian orang merupakan sebuah kebanggaan, entah karena pengalaman yang dimiliki, ilmu atau entah karena umur yang lebih tua (atau juga karena umurnya muda tampangnya doang yang tua, hehehe). Perasaan memiliki nilai lebih dari yang lebih muda karena lebih dulu mengalami hal yang dialami oleh pendatang baru (junior) acap kali membuat sang senior lupa bahwa beliau dulu pernah menjadi seorang junior. Senior umumnya menginginkan diri mereka dihormati oleh para junior walau bagaimanapun juga, merasa ingin selalu diutamakan dari juniornya, meskipun ada juga yang tidak demikian (senior yang baik, hehe). Jika pendefinisian umum senioritas seperti apa yang teruraikan di atas, maka hal ini tidaklah jauh dari penyakit yang dinamakan dengan ujub. So what is ujub mean? Chek it out! Ujub adalah sifat seseor...