ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين. ثم جعلناه نطفة في قرار مكين. ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثم أنشأناه خلقا آخر فتبارك الله أحسن الخالقين. ثم إنكم بعد ذلك لميتون. ثم إنكم يوم القيامة تبعثون.
Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”
Pada ayat di atas, Allah swt berupaya untuk menerangkan kepada hamba-Nya bagaimana proses penciptaan manusia, melalui tujuh tahapan proses sistematis.
Tahapan pertama, Allah menciptakan saripati yang berasal dari tanah. Saripati yang berasal dari tanah adalah hasil dari metabolisme manusia, yang mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan, buah dan biji-bijan, hewan-hewan yang juga memakan tumbuhan yang semuanya berhubungan langsung dengan tanah. Dalam bahasa biologi dikenal dengan istilah sperma. Pendapat ini didukung oleh Thahir Ibn Asyur.
Dalam pendapat yang lain, al-Biqa’i menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nutfah yaitu tanah yang digunakan Allah untuk menciptakan Adam as, saripati dari benda berwujud fisik tanah, bukan berasal dari proses metabolisme seperti yang diungkapkan Thahir Ibn Asyir.
Tahapan kedua, saripati itu kemudian menjadi nutfah, yang disimpan di dalam rahim (tempat yang kokoh). Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nutfah adalah hasil pertemuan sperma dan ovum (pembuahan).
Tahapan ketiga, Allah menjadikan ‘alaqah, dulu dimaknai sebagai segumpal darah. Namun seiring kemajuan teknologi, para ahli (embriolog) lebih cenderung memahaminya dalam arti sesuatu yang bergantung atau berdempet di dinding rahim. Menurut mereka, setelah terjadi pembuahan (nutfah yang berada dalam rahim itu) maka terjadi proses dimana hasil pembuahan itu menghasilkan zat baru, yang kemudian terbelah menjadi dua, lalu menjadi empat, empat menjadi delapan, demikian seterusnya berkelipatan dua. Dalam proses itu, ia bergerak menuju ke dinding rahim dan akhirnya bergantung atau berdempet di sana. Inilah yang disebut ‘alaqah oleh al-Quran. Dalam periode ini, menurut pakar embriologi, sama sekali belum mengandung unsur darah, dan karena itu tidak tepat untuk mengatakan segumpal darah.
Tahapan keempat, Allah mengkonversikan nutfah menjadi mudhghah (berasal dari kata madhagha yang berarti mengunyah). Mudhghah ini adalah sesuatu yang kadarnya kecil sehingga dapat dikunyah. Artinya, Mudhghah ini adalah nutfah yang telah berkembang menjadi lebih besar dan lebih kenyal, namun belum berbentuk manusia.
Tahapan kelima, Allah jadikan tulang belulang. Tentu tulang belulang di sini masih cukup lunak, berbeda dengan tulang manusia dewasa yang telah mengeras.
Tahapan keenam, Allah membungkus tulang-belulang itu dengan daging (lahm).
Tahapan ketujuh, barulah Allah mewujudkannya dalam bentuk yang lain, yaitu bentuk manusia yang memiliki bentuk yang sempurna (selayaknya manusia pada umumnya).
Mengenai bentuk manusia, ada binatang yang menyerupai organ tubuh manusia, kelengkapannya mendekati sama, yaitu gorilla. Namun, pada gorilla, Allah tidak melebihkan jiwa selayaknya pada manusia, sehingga perkembangan gorilla tidak sampai sejauh pada perkembangan penalaran (pemikiran) manusia, yang bahkan mampu untuk menjadi wujud yang sempurna. Ini juga merupakan salah satu indikator mengapa manusia disebut bentuk yang sempurna.
Pada ayat ke 15-16 Allah mengalihkan redaksinya menjadi persona kedua (kamu) setelah sebelumnya pada ayat-ayat yang lalu merupakan persona ketiga (insan). Ini bertujuan menekankan dan mengingatkan semua pihak, terutama mereka yang ragu atau lengah bahwa kehidupan di pentas bumi ini tidak langgeng, tetapi pasti disusul dengan kematian. Dan kematian itu juga bukan akhir perjalanan manusia, karena setelah kematian masih ada kehidupan baru yang ditentukan setelah melalui pengadilan ilahi di hari kemudian.
Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”
Pada ayat di atas, Allah swt berupaya untuk menerangkan kepada hamba-Nya bagaimana proses penciptaan manusia, melalui tujuh tahapan proses sistematis.
Tahapan pertama, Allah menciptakan saripati yang berasal dari tanah. Saripati yang berasal dari tanah adalah hasil dari metabolisme manusia, yang mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan, buah dan biji-bijan, hewan-hewan yang juga memakan tumbuhan yang semuanya berhubungan langsung dengan tanah. Dalam bahasa biologi dikenal dengan istilah sperma. Pendapat ini didukung oleh Thahir Ibn Asyur.
Dalam pendapat yang lain, al-Biqa’i menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nutfah yaitu tanah yang digunakan Allah untuk menciptakan Adam as, saripati dari benda berwujud fisik tanah, bukan berasal dari proses metabolisme seperti yang diungkapkan Thahir Ibn Asyir.
Tahapan kedua, saripati itu kemudian menjadi nutfah, yang disimpan di dalam rahim (tempat yang kokoh). Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nutfah adalah hasil pertemuan sperma dan ovum (pembuahan).
Tahapan ketiga, Allah menjadikan ‘alaqah, dulu dimaknai sebagai segumpal darah. Namun seiring kemajuan teknologi, para ahli (embriolog) lebih cenderung memahaminya dalam arti sesuatu yang bergantung atau berdempet di dinding rahim. Menurut mereka, setelah terjadi pembuahan (nutfah yang berada dalam rahim itu) maka terjadi proses dimana hasil pembuahan itu menghasilkan zat baru, yang kemudian terbelah menjadi dua, lalu menjadi empat, empat menjadi delapan, demikian seterusnya berkelipatan dua. Dalam proses itu, ia bergerak menuju ke dinding rahim dan akhirnya bergantung atau berdempet di sana. Inilah yang disebut ‘alaqah oleh al-Quran. Dalam periode ini, menurut pakar embriologi, sama sekali belum mengandung unsur darah, dan karena itu tidak tepat untuk mengatakan segumpal darah.
Tahapan keempat, Allah mengkonversikan nutfah menjadi mudhghah (berasal dari kata madhagha yang berarti mengunyah). Mudhghah ini adalah sesuatu yang kadarnya kecil sehingga dapat dikunyah. Artinya, Mudhghah ini adalah nutfah yang telah berkembang menjadi lebih besar dan lebih kenyal, namun belum berbentuk manusia.
Tahapan kelima, Allah jadikan tulang belulang. Tentu tulang belulang di sini masih cukup lunak, berbeda dengan tulang manusia dewasa yang telah mengeras.
Tahapan keenam, Allah membungkus tulang-belulang itu dengan daging (lahm).
Tahapan ketujuh, barulah Allah mewujudkannya dalam bentuk yang lain, yaitu bentuk manusia yang memiliki bentuk yang sempurna (selayaknya manusia pada umumnya).
Mengenai bentuk manusia, ada binatang yang menyerupai organ tubuh manusia, kelengkapannya mendekati sama, yaitu gorilla. Namun, pada gorilla, Allah tidak melebihkan jiwa selayaknya pada manusia, sehingga perkembangan gorilla tidak sampai sejauh pada perkembangan penalaran (pemikiran) manusia, yang bahkan mampu untuk menjadi wujud yang sempurna. Ini juga merupakan salah satu indikator mengapa manusia disebut bentuk yang sempurna.
Pada ayat ke 15-16 Allah mengalihkan redaksinya menjadi persona kedua (kamu) setelah sebelumnya pada ayat-ayat yang lalu merupakan persona ketiga (insan). Ini bertujuan menekankan dan mengingatkan semua pihak, terutama mereka yang ragu atau lengah bahwa kehidupan di pentas bumi ini tidak langgeng, tetapi pasti disusul dengan kematian. Dan kematian itu juga bukan akhir perjalanan manusia, karena setelah kematian masih ada kehidupan baru yang ditentukan setelah melalui pengadilan ilahi di hari kemudian.
Komentar
Posting Komentar