Langsung ke konten utama

Ayat tentang Manusia (QS. Al-Mukminuun : 12-16)

ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين. ثم جعلناه نطفة في قرار مكين. ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثم أنشأناه خلقا آخر فتبارك الله أحسن الخالقين. ثم إنكم بعد ذلك لميتون. ثم إنكم يوم القيامة تبعثون.

Artinya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.

Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.”

Pada ayat di atas, Allah swt berupaya untuk menerangkan kepada hamba-Nya bagaimana proses penciptaan manusia, melalui tujuh tahapan proses sistematis.


Tahapan pertama, Allah menciptakan saripati yang berasal dari tanah. Saripati yang berasal dari tanah adalah hasil dari metabolisme manusia, yang mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan, buah dan biji-bijan, hewan-hewan yang juga memakan tumbuhan yang semuanya berhubungan langsung dengan tanah. Dalam bahasa biologi dikenal dengan istilah sperma. Pendapat ini didukung oleh Thahir Ibn Asyur.
Dalam pendapat yang lain, al-Biqa’i menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nutfah yaitu tanah yang digunakan Allah untuk menciptakan Adam as, saripati dari benda berwujud fisik tanah, bukan berasal dari proses metabolisme seperti yang diungkapkan Thahir Ibn Asyir.

Tahapan kedua, saripati itu kemudian menjadi nutfah, yang disimpan di dalam rahim (tempat yang kokoh). Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nutfah adalah hasil pertemuan sperma dan ovum (pembuahan).

Tahapan ketiga, Allah menjadikan ‘alaqah, dulu dimaknai sebagai segumpal darah. Namun seiring kemajuan teknologi, para ahli (embriolog) lebih cenderung memahaminya dalam arti sesuatu yang bergantung atau berdempet di dinding rahim. Menurut mereka, setelah terjadi pembuahan (nutfah yang berada dalam rahim itu) maka terjadi proses dimana hasil pembuahan itu menghasilkan zat baru, yang kemudian terbelah menjadi dua, lalu menjadi empat, empat menjadi delapan, demikian seterusnya berkelipatan dua. Dalam proses itu, ia bergerak menuju ke dinding rahim dan akhirnya bergantung atau berdempet di sana. Inilah yang disebut ‘alaqah oleh al-Quran. Dalam periode ini, menurut pakar embriologi, sama sekali belum mengandung unsur darah, dan karena itu tidak tepat untuk mengatakan segumpal darah.

Tahapan keempat, Allah mengkonversikan nutfah menjadi mudhghah (berasal dari kata madhagha yang berarti mengunyah). Mudhghah ini adalah sesuatu yang kadarnya kecil sehingga dapat dikunyah. Artinya, Mudhghah ini adalah nutfah yang telah berkembang menjadi lebih besar dan lebih kenyal, namun belum berbentuk manusia.

Tahapan kelima, Allah jadikan tulang belulang. Tentu tulang belulang di sini masih cukup lunak, berbeda dengan tulang manusia dewasa yang telah mengeras.

Tahapan keenam, Allah membungkus tulang-belulang itu dengan daging (lahm).

Tahapan ketujuh, barulah Allah mewujudkannya dalam bentuk yang lain, yaitu bentuk manusia yang memiliki bentuk yang sempurna (selayaknya manusia pada umumnya).

Mengenai bentuk manusia, ada binatang yang menyerupai organ tubuh manusia, kelengkapannya mendekati sama, yaitu gorilla. Namun, pada gorilla, Allah tidak melebihkan jiwa selayaknya pada manusia, sehingga perkembangan gorilla tidak sampai sejauh pada perkembangan penalaran (pemikiran) manusia, yang bahkan mampu untuk menjadi wujud yang sempurna. Ini juga merupakan salah satu indikator mengapa manusia disebut bentuk yang sempurna.

Pada ayat ke 15-16 Allah mengalihkan redaksinya menjadi persona kedua (kamu) setelah sebelumnya pada ayat-ayat yang lalu merupakan persona ketiga (insan). Ini bertujuan menekankan dan mengingatkan semua pihak, terutama mereka yang ragu atau lengah bahwa kehidupan di pentas bumi ini tidak langgeng, tetapi pasti disusul dengan kematian. Dan kematian itu juga bukan akhir perjalanan manusia, karena setelah kematian masih ada kehidupan baru yang ditentukan setelah melalui pengadilan ilahi di hari kemudian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babak Baru Aswaja vs Salafi Aceh : Perang Ilmiah

Setelah era tuding menuding di masa lalu, debat kusir di kolom komentar di zaman Fb, ribut-ribut dalam mesjid beberapa waktu lalu, duduk semeja dengan Muspida, sekarang sudah mulai era baru : debat terbuka melalui tulisan. Baca juga tulisan saya:  Aswaja vs Wahabi, babak baru peradaban Islam di Aceh? Ini bagus dan ini akan seru, selama yang dipertarungkan adalah murni argumen/dalil ilmiah dari masing-masing kelompok. Bukan adu kuat, bukan adu emosi, bukan saling lempar tudingan. Bukankah kita sering dikisahkan bahwa di era keemasan Islam dahulu ulama dan para ahli hikmah yang berbeda pandangan sering berdebat ilmu satu sama lain dalam urusan agama? Yang seperti ini lebih terhormat, dialog intelektual yang sehat. Silakan da'i terbaik dari masing-masing kelompok siapkan amunisi dalil yang kuat. Kami yang awam-awam ini akan menyaksikan dan dapat belajar banyak dari hal ini. http://aceh.tribunnews.com/2016/06/21/catatan-untuk-dakwah-salafy-hendaklah-lebih-toleran http://...

Munafik

Nifaq mengandung arti pengakuan dengan lidah tetapi pengingkaran dengan hati. Oleh al-Raghib, nifaq di artikan masuk dengan syara’ (agama) dari satu pintu dan keluar darinya melalui pintu yang lainnya. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat at-Taubah ayat 67 yang mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu adalah orang yang fasiq, yaitu orang yang keluar dari syara’. Nifaq juga diartikan menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. Allah swt berfirman : المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون Artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah : 67)

Senioritas

Anda seorang manusia biasa yang berorganisasi, sekolah, kuliah, kerja, dan hidup bermasyarakat? Tentu tidak asing dengan istilah senioritas bukan? Menjadi seorang senior bagi sebagian orang merupakan sebuah kebanggaan, entah karena pengalaman yang dimiliki, ilmu atau entah karena umur yang lebih tua (atau juga karena umurnya muda tampangnya doang yang tua, hehehe). Perasaan memiliki nilai lebih dari yang lebih muda karena lebih dulu mengalami hal yang dialami oleh pendatang baru (junior) acap kali membuat sang senior lupa bahwa beliau dulu pernah menjadi seorang junior. Senior umumnya menginginkan diri mereka dihormati oleh para junior walau bagaimanapun juga, merasa ingin selalu diutamakan dari juniornya, meskipun ada juga yang tidak demikian (senior yang baik, hehe). Jika pendefinisian umum senioritas seperti apa yang teruraikan di atas, maka hal ini tidaklah jauh dari penyakit yang dinamakan dengan ujub. So what is ujub mean? Chek it out! Ujub adalah sifat seseor...