Pengertian
Menurut bahasa, ahlussunnah berarti penganut sunnah Nabi, sedangkan wal jama’ah ialah penganut i’tiqad sebagai i’tiqad Jama’ah sahabat-sahabat Nabi. Sedangkan berdasarkan istilah, ahlussunah wal jama’ah diartikan kaum yang menganut i’tiqad sebagai i’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat beliau .
Ahlussunnah wal jama’ah ini telah diterangkan oleh Nabi saw dalam beberapa haditsnya, di antaranya sebagai berikut.
“Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu. Para sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya : “Siapakah yang satu itu ya Rasulullah?”. Nabi Menjawab : “Yang satu itu ialah orang yang berpegang teguh kepadaku dan para sahabatku”. (HR. Tirmidzi)
Dalam hadits lain juga disebutkan :
“Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditanganNya, akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah yang hanya satu masuk syurga dan yang lain masuk neraka.” Para sahabat bertanya : “Siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu ya Rasulullah?” Nabi menjawab : “Ahlussunnah wal jamaah”. (HR. Imam Thabrani)
Dari dua hadits yang kita sebutkan di atas, jelas antara keduanya saling memberikan petunjuk (penjelasan) kepada yang lain. Hadits yang pertama memberikan petunjuk akan yang dimaksudkan oleh Nabi saw dengan ahlussunnah wal jama’ah pada hadits berikutnya.
Ahlussunnah dalam Lintasan Sejarah
I’tiqad Nabi dan sahabat-sahabat itu telah termaktub dalam al-Quran dan dalam Sunnah Rasul secara terpencar pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama besar, Syeikh Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari yang dilahirkan di Basrah tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun di kota yang sama.
Oleh karena itu, ada yang menyebutkan pengikut Ahlussunnah wal jama’ah adalah kaum asya’irah yang merupakan jama’ dari asy’ari yang dinisbatkan kepada Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari.
Imam Muhammad bin Muhammad al Husni az Zabidi menyebutkan dalam kitabnya Ikhtilaf Sadatul Muttaqin pada jilid II halaman 6 sebagai berikut :
“Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal jama’ah, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti paham Asy’ari dan paham abu Mansur al-Maturidi”.
Paham ahlussunnah wal jama’ah lahir pada akhir abad ke III setelah sebelumnya bermunculan paham-paham lainnya seperti Syiah (tahun 30 H), Khawarij (Tahun 37 H), Mu’tazilah (awal abad ke II), Qadariyah, Jabariyah, Mujassimah, pemikiran Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Paham Ahlussunnah ini sebagai reaksi dari firqah-firqah yang sebelumnya itu .
Pada abad ke III H, banyak sekali ulama-ulama Mu’tazilah yang menuntut ilmu di Basrah, Kufah dan Baghdad. Khalifah al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (198-218 H), al-Mu’tashim (218-227 H) dan al-Watsiq (227-232 H) adalah khalifah-khalifah penganut paham mu’tazilah yang memberikan konstribusi besar bagi perkembangan paham mu’tazilah pada saat itu.
Pada saat itu juga terjadi fitnah al-Quran makhluk yang mengorbankan beribu ulama yang tidak sepaham dengan mu’tazilah.
Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari pada saat itu berguru pada seorang Syeikh dari golongan Mu’tazilah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab al-Jabai (Wafat 303 H). Pada akhirnya beliau melihat kekeliruan yang ada paham mu’tazilah dan bertaubat, memulai aksinya menentang paham Mu’tazilah yang pada saat itu sedang berjaya.
Aksinya dimulai dengan berpidato di atas mimbar dengan sangat berapi-api pada suatu hari, menyampaikan niatnya untuk meruntuhkan paham mu’tazilah dan mengajak kembali kepada paham yang sebenarnya (ahlussunnah wal jama’ah). Beliau membuka dan melemparkan bajunya di hadapan khalayak sebagai simbol penolakannya terhadap Mu’tazilah.
Perjuangan Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari beliau tuang dalam bentuk pidato dan tulisan-tulisannya. Hingga pada akhirnya paham beliau benar-benar tegak dengan sebutan Ahlussunnah wal jama’ah.
Pokok Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
1. Tentang Iman
Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.
2. Tentang Ketuhanan
Hal ini meliputi mempercayai dengan yakin adanya Allah dengan sifat-sifatnya yang wajib, mustahil dan harus pada Allah.
Tuhan bersama nama-Nya dan sifat-Nya, semuanya qadim, karena nama dan sifat Tuhan itu berdiri di atas zat yang qadim.
3. Tentang Malaikat
Adanya para malaikat yang wajib kita yakini keberadaannya dengan tugasnya masing-masing. Dalam hal ini kita wajib mengetahui dan yakini :
a. Malaikat itu banyak dan tidak terhitung. Setiap malaikat memiliki tugas masing-masing dari Allah swt.
b. Kita hanya diwajibkan mengetahui dan meyakini keberadaan 10 malaikat, dengan tugasnya masing-masing.
4. Tentang Kitab Suci
Pengikut ahlussunnah wal jama’ah memercayai adanya kitab-kitab suci yang diturunkan Tuhan kepada Rasul-rasulNya untuk disampaikan kepada umat manusia.
Alqur’an adalah qadim, yang tertulis dalam mushaf, yang pakai huruf dan suaranya adalah gambaran dari al-Qur’an yang qadim, bukan makhluk.
5. Tentang Rasul
Umat Islam pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai adanya Rasul-Rasul Allah yang diutus untuk menyampaikan kitab suci kepada manusia.
6. Tentang Hari Akhir
Kaum ahlussunnah mempercayai keberadaan hari akhir dan pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan semasa hidup di dunia.
Kaum ahlussunnah mempercayai :
1) Setiap orang akan menemui ajalnya.
2) Doa orang mukmin akan memberi manfaat baginya dan bagi yang didoakannya.
3) Adanya siksa kubur.
4) Adanya kebangkitan untuk berkumpul di Mahsyar.
5) Adanya mizan.
6) Adanya syafa’at dari Nabi dengan seizin Tuhan.
7) Adanya titian sirathal mustaqim.
8) Adanya telaga Kautsar.
9) Adanya syurga bagi orang-orang saleh dan neraka bagi orang yang ingkar.
10) Setiap orang kafir akan kekal di dalam neraka, sedangkan orang Islam yang berbuat dosa akan dimasukkan ke dalam neraka untuk sementara dan akan dikeluarkan kembali setelah hukumannya selesai.
11) Orang-orang yang saleh akan dapat melihat Tuhannya.
12) Yang masuk syurga akan kekal selama-lamanya dan yang dalam neraka kekal selama-lamanya.
13) Anak-anak orang kafir, jika mati akan masuk syurga.
7. Tentang Qadha & Qadar
Qadha menurut pandangan kaum ahlussunnah wal jamaah adalah ketetapan Tuhan tentang sesuatu yang telah ditetapkan sejak zaman azali.
Setiap manusia harus yakin bahwa yang terjadi di dunia ini adalah qadha Tuhan dan taqdir Tuhan, tidak berubah dan tidak ada seorang pun yang mampu merubahnya.
Rezeki manusia sudah ditentukan oleh Allah, tetapi manusia tetap harus berusaha untuk mencari, tidak boleh hanya menunggu.
Ajal manusia telah ditetapkan.
8. Tentang Pahala dan Dosa
Pahala sedekah, wakaf dan pahala bacaan (tahlil, salawat bacaan al-Quran) boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka kalau dimintakan kepada Allah untuk menyampaikannya.
Semua mesjid di dunia adalah sama derajatnya, kecuali 3 buah mesjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Melakukan perjalanan ke 3 mesjid tersebut adalah ibadah.
9. Tentang Ziarah Kubur dan tawassul
Ziarah kubur sunnat hukumnya. Demikian juga dengan bertawassul, sunnat hukumnya.
10. Lainnya
1) Manusia diciptakan dari tanah, iblis dan jin dari api, malaikat dari cahaya.
2) Bumi dan langit itu ada.
3) Asmaul Husna itu tidak boleh dibuat-buat oleh manusia.
4) Jika ada ayat al-Quran yang menyatakan bahwa Tuhan itu bertubuh manusia, bertangan, bermuka, duduk atau turun serupa manusia, maka ulama-ulama ahlussunnah wal jamaah menafsirkan ayat itu secara majazi, bukan dengan arti yang sebenarnya. Seperti “يد الله ” diartikan dengan tuhan berkuasa.
5) Hidup itu Cuma satu kali, tidak ada istilah reinkarnasi.
6) Tuhan memberikan pahala kepada manusia dengan Kurnia-Nya dan menghukum dengan keadilannya.
7) Allah dapat dilihat oleh penduduk syurga dengan mata kepala, bukan dengan mata hati saja. Tetapi bukan berarti Tuhan berada di dalam syurga, hanya kita saja yang berada di dalam syurga.
8) Pada waktu di dunia tidak ada manusia yang dapat melihat Tuhan kecuali Nabi Muhammad saw pada peristiwa mi’raj.
9) Mengutus Rasul-rasul Allah adalah Kurnia Allah kepada hambanya, bukanlah kewajiban Tuhan untuk mengutus Rasul-rasul itu.
10) Nabi Muhammad dilahirkan di Mekkah, diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, menerima wahyu selama 23 tahun. Hijrah ke Madinah pada tahun ke-13 setelah kerasulan, menetap dan wafat di Madinah. Makam Nabi Muhammad terletak di lingkungan Mesjid Nabawi sekarang ini. Setiap orang Islam boleh menziarahi.
11) Nabi Muhammad adalah manusia seperti kita, butuh makan, minum dan memiliki keluarga, hanya saja beliau memiliki rohani dan jasmani yang luar biasa kuatnya, sehingga mampu menerima wahyu-wahyu Allah.
12) Silsilah Nabi adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Marrah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Ma’ad bin Adnan. Dari pihak ibu adalah Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Kilab (kakek Nabi yang ke-enam dari pihak Bapak).
13) Isteri-isteri Nabi yaitu Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Hafasah binti Umar, Ummu Salamah binti Abi Umaiyah, Ummu Habibah binti Abu Sofyan, Saudah binti Zam’ah, Zainab binti Jahasy, Zainab binti Khuzaimah, Maimunah binti Harits, Juwairiyah binti Harits dan Safiyah binti Hay, Radhiallahu ‘an hunna.
14) Anak-anak Nabi Muhammad adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Sitti Fathimah, Qasim, Abdullah dan Ibrahim, Radhiallahu anhum.
15) Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia.
16) Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, dengan tubuh dan ruhnya Nabi.
17) Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang paling awal diangkat dan paling akhir lahir ke dunia.
18) Sesudah Nabi wafat, yang menggantikan beliau adalah khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
19) Nabi Muhammad adalah makhluk yang paling mulia dari sekalian makhluk.
20) Sahabat Nabi yang paling mulia adalah khulafaur rasyidiin, dan sepuluh orang yang telah dikabarkan Nabi akan masuk syurga, yaitu Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin abi Waqash, Said bin Zaid, Abu Ubaidah, Amir bin Jarrah, sahabat Nabi yang ikut perang Badar, Uhud, yang ikut Bai’atur Ridhwan, dan yang lainnya.
21) Soal perselisihan antara para sahabat Nabi seperti perang Jamal antara Siti Aisyah dan Ali bin Abi Thalib, perang Shiffin antara ali dan Muawiyah, kaum ahlussunnah wal jama’ah menanggapinya dengan positif, dianggap mereka berperang menurut ijtihad masing-masing. Kalau ijtihad itu benar di sisi Allah, maka mereka akan mendapat pahala dua, akan tetapi jika ijtihad mereka salah pada sisi Allah, maka mereka akan mendapat pahala satu bahagian, yaitu atas ijtihadnya itu.
22) Kaum Ahlussunnah wal jama’ah yakin bahwa fitnah yang ditujukan kepada keluarga Nabi adalah fitnah yang dibuat-buat.
23) Kerasulan adalah Kurnia Tuhan, bukan jabatan yang dapat diraih.
24) Rasul dibekali mukjizat.
25) Kaum Ahlussunnah waljamaah meyakini adanya keramat.
26) Adanya Arsy.
27) Adanya Kursi Tuhan, yaitu suatu makhluk Tuhan yang berdekatan dan bertalian dengan Arsy.
28) Adanya kalam Tuhan.
29) Ada dosa besar dan dosa kecil.
30) Hal yang membuat kafir :
a. Ragu atas adanya Tuhan.
b. Ragu atas kerasulan Nabi Muhammad saw.
c. Ragu bahwa al-Quran itu wahyu Tuhan.
d. Ragu akan adanya hari Kiamat, surga, neraka, dsb.
e. Ragu bahwa Nabi Isra’ dan Mi’raj dengan tubuh dan ruh.
f. Mengi’tiqadkan Tuhan tidak punya sifat.
g. Mengi’tiqadkan Tuhan serupa manusia.
h. Menghalalkan pekerjaan yang telah diharamkan.
i. Mengharamkan pekerjaan yang dibolehkan.
j. Meniadakan suatu amalan yang telah diwajibkan, seperti sembahyang, puasa, zakat, dsb.
k. Mengingkari kesahabatan Nabi seperti Abu Bakar, Umar, dsb.
l. Mengingkari ayat a-Qur’an.
m. Mengingkari kerasulan para Rasul.
n. Mendustakan Rasul-rasul Tuhan.
o. Mengi’tiqadkan adanya Nabi sesudah Nabi Muhammad saw.
p. Mendakwakan dirinya Nabi.
q. Sujud kepada berhala, matahari, dsb.
r. Sujud kepada manusia dengan sukarela.
s. Menghina Nabi dan Rasul baik dengan perkataan maupun perbuatan.
t. Menghina kitab suci baik dengan perkataan maupun perbuatan.
u. Mengejek agama atau Tuhan baik dengan perkataan maupun perbuatan.
v. Mengucapkan kafir kepada orang Islam.
w. Mengejek Nama Tuhan.
x. Mengejek rukun Iman.
y. Dan lainnya.
*ringkasan tugas
Menurut bahasa, ahlussunnah berarti penganut sunnah Nabi, sedangkan wal jama’ah ialah penganut i’tiqad sebagai i’tiqad Jama’ah sahabat-sahabat Nabi. Sedangkan berdasarkan istilah, ahlussunah wal jama’ah diartikan kaum yang menganut i’tiqad sebagai i’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat beliau .
Ahlussunnah wal jama’ah ini telah diterangkan oleh Nabi saw dalam beberapa haditsnya, di antaranya sebagai berikut.
“Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu. Para sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya : “Siapakah yang satu itu ya Rasulullah?”. Nabi Menjawab : “Yang satu itu ialah orang yang berpegang teguh kepadaku dan para sahabatku”. (HR. Tirmidzi)
Dalam hadits lain juga disebutkan :
“Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditanganNya, akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah yang hanya satu masuk syurga dan yang lain masuk neraka.” Para sahabat bertanya : “Siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu ya Rasulullah?” Nabi menjawab : “Ahlussunnah wal jamaah”. (HR. Imam Thabrani)
Dari dua hadits yang kita sebutkan di atas, jelas antara keduanya saling memberikan petunjuk (penjelasan) kepada yang lain. Hadits yang pertama memberikan petunjuk akan yang dimaksudkan oleh Nabi saw dengan ahlussunnah wal jama’ah pada hadits berikutnya.
Ahlussunnah dalam Lintasan Sejarah
I’tiqad Nabi dan sahabat-sahabat itu telah termaktub dalam al-Quran dan dalam Sunnah Rasul secara terpencar pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama besar, Syeikh Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari yang dilahirkan di Basrah tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun di kota yang sama.
Oleh karena itu, ada yang menyebutkan pengikut Ahlussunnah wal jama’ah adalah kaum asya’irah yang merupakan jama’ dari asy’ari yang dinisbatkan kepada Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari.
Imam Muhammad bin Muhammad al Husni az Zabidi menyebutkan dalam kitabnya Ikhtilaf Sadatul Muttaqin pada jilid II halaman 6 sebagai berikut :
“Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal jama’ah, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti paham Asy’ari dan paham abu Mansur al-Maturidi”.
Paham ahlussunnah wal jama’ah lahir pada akhir abad ke III setelah sebelumnya bermunculan paham-paham lainnya seperti Syiah (tahun 30 H), Khawarij (Tahun 37 H), Mu’tazilah (awal abad ke II), Qadariyah, Jabariyah, Mujassimah, pemikiran Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Paham Ahlussunnah ini sebagai reaksi dari firqah-firqah yang sebelumnya itu .
Pada abad ke III H, banyak sekali ulama-ulama Mu’tazilah yang menuntut ilmu di Basrah, Kufah dan Baghdad. Khalifah al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (198-218 H), al-Mu’tashim (218-227 H) dan al-Watsiq (227-232 H) adalah khalifah-khalifah penganut paham mu’tazilah yang memberikan konstribusi besar bagi perkembangan paham mu’tazilah pada saat itu.
Pada saat itu juga terjadi fitnah al-Quran makhluk yang mengorbankan beribu ulama yang tidak sepaham dengan mu’tazilah.
Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari pada saat itu berguru pada seorang Syeikh dari golongan Mu’tazilah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab al-Jabai (Wafat 303 H). Pada akhirnya beliau melihat kekeliruan yang ada paham mu’tazilah dan bertaubat, memulai aksinya menentang paham Mu’tazilah yang pada saat itu sedang berjaya.
Aksinya dimulai dengan berpidato di atas mimbar dengan sangat berapi-api pada suatu hari, menyampaikan niatnya untuk meruntuhkan paham mu’tazilah dan mengajak kembali kepada paham yang sebenarnya (ahlussunnah wal jama’ah). Beliau membuka dan melemparkan bajunya di hadapan khalayak sebagai simbol penolakannya terhadap Mu’tazilah.
Perjuangan Abu Hasan ‘Ali al-Asy’ari beliau tuang dalam bentuk pidato dan tulisan-tulisannya. Hingga pada akhirnya paham beliau benar-benar tegak dengan sebutan Ahlussunnah wal jama’ah.
Pokok Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
1. Tentang Iman
Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.
2. Tentang Ketuhanan
Hal ini meliputi mempercayai dengan yakin adanya Allah dengan sifat-sifatnya yang wajib, mustahil dan harus pada Allah.
Tuhan bersama nama-Nya dan sifat-Nya, semuanya qadim, karena nama dan sifat Tuhan itu berdiri di atas zat yang qadim.
3. Tentang Malaikat
Adanya para malaikat yang wajib kita yakini keberadaannya dengan tugasnya masing-masing. Dalam hal ini kita wajib mengetahui dan yakini :
a. Malaikat itu banyak dan tidak terhitung. Setiap malaikat memiliki tugas masing-masing dari Allah swt.
b. Kita hanya diwajibkan mengetahui dan meyakini keberadaan 10 malaikat, dengan tugasnya masing-masing.
4. Tentang Kitab Suci
Pengikut ahlussunnah wal jama’ah memercayai adanya kitab-kitab suci yang diturunkan Tuhan kepada Rasul-rasulNya untuk disampaikan kepada umat manusia.
Alqur’an adalah qadim, yang tertulis dalam mushaf, yang pakai huruf dan suaranya adalah gambaran dari al-Qur’an yang qadim, bukan makhluk.
5. Tentang Rasul
Umat Islam pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai adanya Rasul-Rasul Allah yang diutus untuk menyampaikan kitab suci kepada manusia.
6. Tentang Hari Akhir
Kaum ahlussunnah mempercayai keberadaan hari akhir dan pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan semasa hidup di dunia.
Kaum ahlussunnah mempercayai :
1) Setiap orang akan menemui ajalnya.
2) Doa orang mukmin akan memberi manfaat baginya dan bagi yang didoakannya.
3) Adanya siksa kubur.
4) Adanya kebangkitan untuk berkumpul di Mahsyar.
5) Adanya mizan.
6) Adanya syafa’at dari Nabi dengan seizin Tuhan.
7) Adanya titian sirathal mustaqim.
8) Adanya telaga Kautsar.
9) Adanya syurga bagi orang-orang saleh dan neraka bagi orang yang ingkar.
10) Setiap orang kafir akan kekal di dalam neraka, sedangkan orang Islam yang berbuat dosa akan dimasukkan ke dalam neraka untuk sementara dan akan dikeluarkan kembali setelah hukumannya selesai.
11) Orang-orang yang saleh akan dapat melihat Tuhannya.
12) Yang masuk syurga akan kekal selama-lamanya dan yang dalam neraka kekal selama-lamanya.
13) Anak-anak orang kafir, jika mati akan masuk syurga.
7. Tentang Qadha & Qadar
Qadha menurut pandangan kaum ahlussunnah wal jamaah adalah ketetapan Tuhan tentang sesuatu yang telah ditetapkan sejak zaman azali.
Setiap manusia harus yakin bahwa yang terjadi di dunia ini adalah qadha Tuhan dan taqdir Tuhan, tidak berubah dan tidak ada seorang pun yang mampu merubahnya.
Rezeki manusia sudah ditentukan oleh Allah, tetapi manusia tetap harus berusaha untuk mencari, tidak boleh hanya menunggu.
Ajal manusia telah ditetapkan.
8. Tentang Pahala dan Dosa
Pahala sedekah, wakaf dan pahala bacaan (tahlil, salawat bacaan al-Quran) boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka kalau dimintakan kepada Allah untuk menyampaikannya.
Semua mesjid di dunia adalah sama derajatnya, kecuali 3 buah mesjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Melakukan perjalanan ke 3 mesjid tersebut adalah ibadah.
9. Tentang Ziarah Kubur dan tawassul
Ziarah kubur sunnat hukumnya. Demikian juga dengan bertawassul, sunnat hukumnya.
10. Lainnya
1) Manusia diciptakan dari tanah, iblis dan jin dari api, malaikat dari cahaya.
2) Bumi dan langit itu ada.
3) Asmaul Husna itu tidak boleh dibuat-buat oleh manusia.
4) Jika ada ayat al-Quran yang menyatakan bahwa Tuhan itu bertubuh manusia, bertangan, bermuka, duduk atau turun serupa manusia, maka ulama-ulama ahlussunnah wal jamaah menafsirkan ayat itu secara majazi, bukan dengan arti yang sebenarnya. Seperti “يد الله ” diartikan dengan tuhan berkuasa.
5) Hidup itu Cuma satu kali, tidak ada istilah reinkarnasi.
6) Tuhan memberikan pahala kepada manusia dengan Kurnia-Nya dan menghukum dengan keadilannya.
7) Allah dapat dilihat oleh penduduk syurga dengan mata kepala, bukan dengan mata hati saja. Tetapi bukan berarti Tuhan berada di dalam syurga, hanya kita saja yang berada di dalam syurga.
8) Pada waktu di dunia tidak ada manusia yang dapat melihat Tuhan kecuali Nabi Muhammad saw pada peristiwa mi’raj.
9) Mengutus Rasul-rasul Allah adalah Kurnia Allah kepada hambanya, bukanlah kewajiban Tuhan untuk mengutus Rasul-rasul itu.
10) Nabi Muhammad dilahirkan di Mekkah, diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, menerima wahyu selama 23 tahun. Hijrah ke Madinah pada tahun ke-13 setelah kerasulan, menetap dan wafat di Madinah. Makam Nabi Muhammad terletak di lingkungan Mesjid Nabawi sekarang ini. Setiap orang Islam boleh menziarahi.
11) Nabi Muhammad adalah manusia seperti kita, butuh makan, minum dan memiliki keluarga, hanya saja beliau memiliki rohani dan jasmani yang luar biasa kuatnya, sehingga mampu menerima wahyu-wahyu Allah.
12) Silsilah Nabi adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Marrah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Ma’ad bin Adnan. Dari pihak ibu adalah Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Kilab (kakek Nabi yang ke-enam dari pihak Bapak).
13) Isteri-isteri Nabi yaitu Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Hafasah binti Umar, Ummu Salamah binti Abi Umaiyah, Ummu Habibah binti Abu Sofyan, Saudah binti Zam’ah, Zainab binti Jahasy, Zainab binti Khuzaimah, Maimunah binti Harits, Juwairiyah binti Harits dan Safiyah binti Hay, Radhiallahu ‘an hunna.
14) Anak-anak Nabi Muhammad adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Sitti Fathimah, Qasim, Abdullah dan Ibrahim, Radhiallahu anhum.
15) Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia.
16) Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, dengan tubuh dan ruhnya Nabi.
17) Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang paling awal diangkat dan paling akhir lahir ke dunia.
18) Sesudah Nabi wafat, yang menggantikan beliau adalah khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
19) Nabi Muhammad adalah makhluk yang paling mulia dari sekalian makhluk.
20) Sahabat Nabi yang paling mulia adalah khulafaur rasyidiin, dan sepuluh orang yang telah dikabarkan Nabi akan masuk syurga, yaitu Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin abi Waqash, Said bin Zaid, Abu Ubaidah, Amir bin Jarrah, sahabat Nabi yang ikut perang Badar, Uhud, yang ikut Bai’atur Ridhwan, dan yang lainnya.
21) Soal perselisihan antara para sahabat Nabi seperti perang Jamal antara Siti Aisyah dan Ali bin Abi Thalib, perang Shiffin antara ali dan Muawiyah, kaum ahlussunnah wal jama’ah menanggapinya dengan positif, dianggap mereka berperang menurut ijtihad masing-masing. Kalau ijtihad itu benar di sisi Allah, maka mereka akan mendapat pahala dua, akan tetapi jika ijtihad mereka salah pada sisi Allah, maka mereka akan mendapat pahala satu bahagian, yaitu atas ijtihadnya itu.
22) Kaum Ahlussunnah wal jama’ah yakin bahwa fitnah yang ditujukan kepada keluarga Nabi adalah fitnah yang dibuat-buat.
23) Kerasulan adalah Kurnia Tuhan, bukan jabatan yang dapat diraih.
24) Rasul dibekali mukjizat.
25) Kaum Ahlussunnah waljamaah meyakini adanya keramat.
26) Adanya Arsy.
27) Adanya Kursi Tuhan, yaitu suatu makhluk Tuhan yang berdekatan dan bertalian dengan Arsy.
28) Adanya kalam Tuhan.
29) Ada dosa besar dan dosa kecil.
30) Hal yang membuat kafir :
a. Ragu atas adanya Tuhan.
b. Ragu atas kerasulan Nabi Muhammad saw.
c. Ragu bahwa al-Quran itu wahyu Tuhan.
d. Ragu akan adanya hari Kiamat, surga, neraka, dsb.
e. Ragu bahwa Nabi Isra’ dan Mi’raj dengan tubuh dan ruh.
f. Mengi’tiqadkan Tuhan tidak punya sifat.
g. Mengi’tiqadkan Tuhan serupa manusia.
h. Menghalalkan pekerjaan yang telah diharamkan.
i. Mengharamkan pekerjaan yang dibolehkan.
j. Meniadakan suatu amalan yang telah diwajibkan, seperti sembahyang, puasa, zakat, dsb.
k. Mengingkari kesahabatan Nabi seperti Abu Bakar, Umar, dsb.
l. Mengingkari ayat a-Qur’an.
m. Mengingkari kerasulan para Rasul.
n. Mendustakan Rasul-rasul Tuhan.
o. Mengi’tiqadkan adanya Nabi sesudah Nabi Muhammad saw.
p. Mendakwakan dirinya Nabi.
q. Sujud kepada berhala, matahari, dsb.
r. Sujud kepada manusia dengan sukarela.
s. Menghina Nabi dan Rasul baik dengan perkataan maupun perbuatan.
t. Menghina kitab suci baik dengan perkataan maupun perbuatan.
u. Mengejek agama atau Tuhan baik dengan perkataan maupun perbuatan.
v. Mengucapkan kafir kepada orang Islam.
w. Mengejek Nama Tuhan.
x. Mengejek rukun Iman.
y. Dan lainnya.
*ringkasan tugas
Komentar
Posting Komentar